Tsunami Terjang Pantai Anyer

Pantau Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang Sebabkan Tsunami Banten, Petugas Ini Bilang Unik

Pantau Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang Sebabkan Tsunami Banten, Petugas Ini Bilang Unik

Pantau Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang Sebabkan Tsunami Banten, Petugas Ini Bilang Unik
Dok Polairud Polres Lamsel
Kondisi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang memperlhatkan tanda-tanda peningkatan aktivitas. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Fenomena alam erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut jadi penyebab tsunami Banten dan Tsunami Lampung terus dipantau dari Pos Pantau Gunung Anak Krakatau.

Meski menimbulkan banyak korban jiwa karena erupsinya menyebabkan tsunami banten dan tsunami lampung, namun Ketua Tim Tanggap Darurat di Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Kushendratno justru mendapatkan pengalaman yang cukup berkesan selama bertugas memantau aktivitas vulkanik Anak Krakatau.

Selama 12 tahun bekerja di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, baru kali ini diminta untuk memantau gunung yang menurutnya memiliki keunikan tersendiri.

"Dari seluruh gunung berapi di Indonesia, ini paling unik menurut saya," jelas Kushendratno saat berbincang dengan Tribunnews.com di Pos Pantau Anak Krakatau, Carita, Banten, Sabtu (29/12/2018).

Baca: Aturan Baru BKN & Kemenpan RB untuk Peserta CPNS 2018 yang Lolos Usai Daftar di sscn.bkn.go.id

Baca: Sikap Olla Ramlan Saat Disebut Terima Endorse dari Kosmetik Ilegal Seperti Via Vallen & Nella

Baca: Hasil Lengkap Liga Inggris Pekan ke 20, Liverpool Kokoh di Puncak Klasemen, City Bisa Salip Spurs

Baca: Anjasmara Marah Saat Netizen Hina Bentuh Tubuh Dian Nitami, Ancam Lapor Polisi

Baca: Cuplikan Gol Liverpool vs Arsenal Liga Inggris 2019, Skor Akhir 5-1, Firmino Hattrick!

Jelas dia, selama bertugas untuk melakukan pemantauan di berbagai gunung berapi di Indonesia, hanya Gunung Anak Krakatau yang dipantau dari jarak yang sangat jauh.

Setidaknya, beberapa gunung yang masih aktif, jarak pantau hanya 10 kilometer dari pos pantau. Sementara di Anak Krakatau, pemantauan berjarak 42 kilometer.

"Jadi, baru gunung ini juga yang bisa membuat kita tidak bisa menyeberang dari satu pulau ke pulau lain. he-he-he," ucapnya seraya tertawa kecil.

Apakah selama bertugas di Gunung Anak Krakatau, ada kesulitan yang dirasakan Kushendratno?

"Kami didukung alat-alat untuk merekam gempa. Jadi, aktivitas gunung, bisa kami lihat juga dari rekaman yang setiap saat terus berjalan. Kami juga bisa melihat pemantauan langsung meski jauh. Ini susah sebenarnya, tapi Alhamdulillah dia (Gunung Anak Krakatau) kalau aktif itu meletus, jadi kelihatan," jelasnya.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda (KOMPAS/RIZA FATHONI)

Kushendratno pun menjawab pertanyaan soal karakter pembeda dari Anak Krakatau dengan gunung berapi lainnya sepengetahuan bapak?

"Letusan tipe Sutseyan ini yang paling baru, gunung yang memiliki kawah yang berada dekat dengan air laut, sehingga yang memicu bukan hanya magma yang di dalam kawah, tetapi juga air laut, ini baru menurut saya. Hanya di Gunung Krakatau juga yang kita punya visual bagus saat meletus," jelasnya lagi.

Karena keunikan inilah, pihaknya terus melakukan pengamatan selama 24 jam tanpa henti.

Penampakan Erupsi Gunung Anak Krakatau
Penampakan Erupsi Gunung Anak Krakatau (Instagram @didikh017 via Twitter Sutopo Purwo Nugroho)

Kushendratn mengatakan dirinya dibantu tiga orang pengamat gunung bergantian.

"Saya juga biasa tidur jam 12 malam, minimal itu jam 11 malam. Kemarin ini lagi sibuk-sibuknya, saya bisa tidur jam 2 pagi. He-he-he. Jadi, kalau jam 12 malam itu, aktivitas di sini masih ramai lah," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Mengamati 24 Jam Aktivitas Anak Gunung Karakatau, Kushendratno Temukan Keunikan Ini

Editor: Rendy Nicko
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved