KalselPedia

KalselPedia : Obyek Wisata Matangkaladan di Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar

Setiap hari selalu saja ada pengunjung di obyek wisata bukit Matangkaladan Desa Tiwingan Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar.

KalselPedia : Obyek Wisata Matangkaladan di Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar
banjarmasinpost.co.id/hasby suhaili
Pambakal Tiwingan, Arbani menunjukan keindahan bukit Matangkaladan di Desa Tiwingan, Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID -- Setiap hari selalu saja ada pengunjung di obyek wisata bukit Matangkaladan Desa Tiwingan Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar. Walau aparatur desa terus melakukan pembenahan demi kenyamanan pengunjung.

Mahasiswa IAIN Kediri Jawa Timur, Intan mengisi liburan di bukit Matangkaladan, cuaca hujan tidak menyurutkan semangatnya agar sampai ke puncak. Ditemani saudaranya, perempuan kelahiran 1996 itu merasa puas menikmati pemandangan dari bukit Matangkaladan.

"Liburan di Martapura, kemudian diajak saudara untuk jalan-jalan ke Matangkaladan. Sebelumnya memang sudah mengetahui sekilas saja dari media sosial, perjalanan sampai ke puncak luar biasa dan sesampainya diatas sudah terbayarkan akan keindahannya," katanya.

Dia menambahkan, menambah eksotis Matangkaladan karena merupakan bendungan yang dikelola, terlebih posisinya yang bisa memandang matahari terbit. Hanya saja menurutnya, kebersihan perlu diperhatikan lagi serta pentingnya pagar untuk keselamatan pengunjung.

Pengunjung obyek wisata Matangkaladan
Pengunjung obyek wisata Matangkaladan (banjarmasinpost.co.id/hasby suhaili)

Kepala Desa Tiwinganlama, Arbani mengatakan, obyek wisata di desanya ini mulai booming sejak 2014 lalu. Asal muasal nama Matangkaladan karena merupakan puncak dan banyak ada pematang-pematang, sehingga akrab disebut Matangkaladan.

"Kedepan kami akan membangunkan pagar sekeliling Matangkaladan, karena ini merupakan aset Tahura dan sudah berkonsultasi dengan pemilik aset. Mengingat jumlah pengunjung selalu meningkat," katanya.

Ditemui di puncak Matangkaladan, Arbani mengatakan, seiring terus meningkatnya pengunjung bahkan jika musim liburan jumlahnya bisa mencapai dua ribu orang, maka pagar keliling sangatlah penting, demi keselamatan. Selama ini pembenahan fasilitas di obyek wisata tersebut, melalui dana desa.

Selain memerlukan pagar sekeliling obyek wisata alam tersebut, pihaknya juga mengharapkan pemerintah daerah bisa membangunkan homestay. Dirinya pun sudah bekoordinasi dengan pengelola Tahura yang membolehkan membangunkan pagar dan homestay karena tujuannya untuk memajukan obyek wisata di kawasan tersebut.

Jalan menanjak menuju Bukit Matangkaladan di Desa Tiwingan, Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar
Jalan menanjak menuju Bukit Matangkaladan di Desa Tiwingan, Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar (salmah)

Dijelaskannya, setiap 10 persen dari jumlah alokasi dana desa dan dari hasil penjualan karcis masuk digunakan untuk membenahi Matangkaladan. Dana tersbut digunakan seperti memperbaiki jalan desa setapak menuju puncak, membangun toilet untuk kenyamanan pengunjung.

Jarak tempuh menuju puncak Matangkaladan sekitar seribu meter dari pangkalan ojek, pengunjung bisa memanfaatkan fasilitas ojek menuju puncak. Satu kali perjalanan, pengunjung dikenakan biaya Rp 20 ribu.

Menurut Arbani, pengunjung tidak hanya dari Kalsel tetapi juga dari luar Kalimantan bahkan mancanegara. Disebutkannya seperti pengunjung dari Irlandia, Prancis, Kanada dan Cina, kebanyakan mereka menikmati saat matahari terbit diatas puncak Matangkaladan.

"Karena memang daya tarik di bukit Matangkaladan ini adalah saat matahari terbit, yakni pukul 06.00 Wita. Pagi-pagi mereka sudah dipuncak, bahkan ada yang menginap dengan mendirikan tenda-tenda, oleh sebab itulah makanya penting kalau ada homestay," tambahnya. (Banjarmasinpost.co.id/Hasby)

Penulis:
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved