Melihat Seputar Piduduk Banjar

Tahun Baru 2019, Gusti Halimah Buang Alat Piduduk ke Sungai, Ini Tujuannya

Seorang warga Kota Banjarmasin, Gusti Halimah memiliki pengalaman membuat piduduk sebelum malabuh atau membuang beberapa barang dan makanan ke sungai.

Tahun Baru 2019, Gusti Halimah Buang Alat Piduduk ke Sungai, Ini Tujuannya
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Piduduk olahan Gusti Halimah. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Seorang warga Kota Banjarmasin, Gusti Halimah memiliki pengalaman membuat piduduk sebelum malabuh atau membuang beberapa barang dan makanan ke sungai.

Dia baru saja menggelar malabuh bersama cucunya pada Selasa (1/1/2019) malam atau di awal tahun baru 2019 di sungai dekat rumahnya di Jalan Gatot Subroto, Banjarmasin.

Sebelum malabuh, terlebih dahulu dia membuat piduduk berisi garam, pisau, gula merah, tiga liter beras, kelapa tua, selembar uang Rp 5.000, jarum, benang dan beberapa rempah seperti daun jeruk dan serai.

Isi piduduk memiliki simbol dan makna tersendiri.

Baca: Ada Apa? Kok Tiba-tiba Ayah Maia Estianty, Harjono Sigit Posting Foto Saat Muda! Mungkinkan Firasat?

Misalnya pisau sebagai lambang ketajaman berpikir, diharapkan pelaku atau penerima piduduk bakal memiliki pemikiran yang demikian.

Baca: Dijodohkan Maia Estianty, Aaliyah Massaid Posting Foto Berdua Dul Jaelani, Taarufnya Digelar Besok

Kemudian jarum dan benang sebagai simbol keeratan hubungan dengan sesama manusia, diharapkan dengan ini hubungan pembuat piduduk dengan penerimanya bakal terus terjalin baik.

Lalu beras disimbolkan sebagai pengganti tenaga di badan yang telah dikeluarkan untuk beraktivitas.

Baca: Rekap Hasil SKD dan SKB, Kemenkop UKM Umumkan Hasil Akhir CPNS 2018, Infonya Klik Link Ini

Selain membuat piduduk, sebagai syarat upacara malabuh, dia memasak ketan, telur, menyediakan pisang, kembang, rokok, kopi pahit, kopi manis, air putih dan dupa sebagai sesajen.

Semua benda ini dibuang di sungai atau dalam bahasa Banjar disebut dilabuh.

“Tujuan malabuh ini untuk keselamatan diri, agar rezeki pelakunya dilindungi dan lancar. Saya melakukannya malam usai salat magrib,” akunya.

Sementara piduduk yang diolahnya kemudian dibawanya pulang ke rumah.

“Kalau mau piduduknya ini bisa dimasak untuk dimakan,” ujarnya. (banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal)

Penulis: Yayu Fathilal
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved