Tsunami Terjang Pantai Anyer

BMKG Masih Berlakukan Zona Waspada Tsunami Pascabencana Tsunami Banten dan Lampung

BMKG Masih Berlakukan Zona Waspada Tsunami PascaBencana Tsunami Banten dan Lampung

BMKG Masih Berlakukan Zona Waspada Tsunami Pascabencana Tsunami Banten dan Lampung
ACT
KONDISI TREKINI - Pantauan kondisi terkini Pantai Kalianda, Lampung Selatan pasca tsunami Banten via udara, Minggu (23/12/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika masih menerapkan zona waspada tsunami pascabencana tsunami Banten dan Lampung.

Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau, serta mempertimbangkan kondisi lereng/tebing dasar laut ataupun kondisi potensi gempa yang jadi penyebab tsunami Banten dan Lampung.

"Masyarakat diminta tetap tenang dan waspada, dalam beraktivitas di pantai/pesisir Selat Sunda, dalam radius 500 meter dari tepi pantai yang berada pada elevasi rendah," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly dalam siaran persnya, Sabtu (5/1/2019).

Sadly memastikan, pihaknya bersama Badan Geologi dengan dukungan TNI dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman masih terus memantau Anak Krakatau dan potensi kebencanaannya.

Baca: Ketahui 7 Ketentuan Tarif Bagasi Lion Air dan Wings Air yang Diberlakukan 8 Januari 2019

Baca: Respons 2 Mantan Kekasih Artis FTV Vanessa Angel yang Diduga Terlibat Prostitusi Online di Surabaya

Baca: Berapa Fee Mucikari Artis FTV Vanessa Angel dengan Tarif 80 Juta di Prostitusi Online Surabaya

Baca: Pengakuan Artis FTV Vanessa Angel Pada Manajer Sebelum Digerebek Kasus Prostitusi Online di Surabaya

Masyarakat diminta tidak terpancing informasi atau isu yang menyesatkan.

"Mohon terus memonitor perkembangan informasi terkait kewaspadaan bahaya tsunami, melalui website, aplikasi mobile dan media sosial InfoBMKG, serta memonitor perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui aplikasi MAGMA INDONESIA Badan Geologi-ESDM, agar tidak terpancing dengan informasi atau isu yang menyesatkan," ujar Sadly.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau terus berlangsung.

Berdasar pengamatan dari pos di Pasauran, Kecamatan Cinangka, Serang, Krakatau meletus 60 kali pada hari Rabu (2/1/2019).

Namun, letusan tersebut tidak menyebabkan tsunami seperti peristiwa pada Sabtu (22/12/2018) lalu.

Tsunami pada Desember lalu didahului dengan longsornya Gunung Anak Krakatau.

Untuk mengantisipasi tsunami akibat longsor, BMKG memasang alat berupa sensor pemantau gelombang dan iklim.

Sensor tersebut dipasang di Pulau Sebesi yang jaraknya cukup dekat dengan Gunung Anak Krakatau.

Alat tersebut akan bekerja memantau pergerakan gelombang dan cuaca yang disebabkan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Jika ada gelombang yang mengalami fluktuasi tinggi, sensor akan mengirim sinyal ke pusat data yang terhubung. (Kompas.com/Nibras Nada Nailufar)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Editor: Restudia
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved