Opini Publk

Waspada Bencana Geologi dan Tata Ruang

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Geologi Kementerian ESDM (BGKESDM) baru saja mengeluarkan Peta Wilayah Rawan Longsor

Waspada Bencana Geologi dan Tata Ruang
Tribun Jabar/Ferri Amiril Mukminin
Tim SAR gabungan melakukan evakuasi korban longsor di Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Selasa (1/1/2019). 

OLEH: DR ABDUL HARIS FAKHMI ST MT

(Pemerhati Lingkungan, Pertambangan dan Energi)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Geologi Kementerian ESDM (BGKESDM) baru saja mengeluarkan Peta Wilayah Rawan Longsor dengan potensi gerakan tanah sedang hingga tinggi. Peta ini harus diterima tiap daerah didistribusikan dan langsung disosialisasikan untuk langkah menjaga dan kewaspadaan sebelum datangnya bencana yang dapat secara tiba-tiba. Prediksi bulan Januari 2019, potensi gerakan tanah akan terjadi di sebagian Papua dan Sulawesi, Sumatera dan Jawa. Sebagian lagi di pulau Kalimantan. Khusus wilayah Kalimantan masuk kategori sedang tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Untuk wilayah Kalimantan Selatan tidak masuk dalam peta wilayah rawan longsor. Namun untuk wilayah Kalsel harus tetap waspada, karena prediksi dari BMKG bahwa intensitas curah hujan disertai angin kencang/badai masih mengancam wilayah pesisir pantai. Prediksi dibuat dengan memadukan peta zona kerentanan gerakan tanah dan peta prakiraan hujan dari Badan Meterologi dan Geofisika. Dari total 504 kabupaten/kota sebanyak 441 kabupaten/kota atau 87,5 persennya termasuk daerah rawan longsor dengan kategori sedang hingga tinggi. Penyebab terjadinya longsor adalah kerusakan lingkungan berupa kerusakan hutan, lahan kritis, dan perubahan fungsi lahan. Sepanjang tahun 2019 diperkirakan banjir dan tanah longsor akan terjadi bulan Januari, Pebruari, Maret, April dan Desember.

Pemerintah daerah diminta melakukan mitigasi bencana dengan memperhatikan peta kerawanan bencana, aspek peingatan dini dan penegakan hukum tata ruang.

Bencana Geologi dan Tata Ruang

Bencana alam geologi adalah bencana yang terjadi di permukaan bumi atau disebabkan oleh gerakan atau aktivitas dari dasar bumi yang muncul ke permukaan. Sedangan ilmu geologi adalah ilmu yang mempelajari segala hal tentang bumi. Bencana juga dapat diperparah karena kegiatan ekonomi manusia sehingga menimbulkan gangguan terhadap ingkungan (antropogenik).

Dampak bencana yang ditimbulkan dan mempengaruhi hajat hidup orang banyak itu sendiri sangatlah mendasar. Contoh konkrit, terjadi bencana kekeringanan sumber air penduduk karena maraknya industri air kemasan di wilayah tersebut, berkurangnya volume air di suatu wilayah karena terpotongnya siklus hidrologi karena perkebunan kelapa sawit dan tersebarnya lubang tambang (void) pascatambang, kejadian erosi, longsor dan banjir karena penggundulan hutan dan pembukaan lahan yang begitu masif.

Sedangkan bencana tata ruang adalah pelanggaran terhadap fungsi dan kendali tata ruang sehingga ketika datang bencana geologi(gempa bumi, longsor, tsunami, gunung meletus) mengakibatkan kerugian lebih besar terhadap manusia berupa kehilangan nyawa dan harta benda. Sebagai contoh penempatan manusia pada ruang yang salah yaitupada wilayah zona rawan longsor tetapidi bawah kaki bukitnya ditempati warga sebagai area pemukiman. Contoh yang baru saja terjadi, bencana yang merupakan kombinasi antara geologi dan tata ruang sektor pertambangan yaitu kecelakaan tambang yang merenggut nyawa dua karyawan saat operasional penggalian dan pengangkutan.

Demikian juga di zona rawan gempa dan tsunami seperti yang terjadi di pesisir pantai Palu, Banten dan Lampung yang memakan ribuan korban jiwa,bangunan dibiarkan berdiri di sepanjang sempadan pantai tanpa penegakan aturan yang jelas. Padahal, sudah diatur sebagaimana Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai. Terakhir yang baru saja terjadi, bencana longsor di Sinaresmi Sukabumi adalah contoh bencana tata ruang dengan adanya faktor campur tangan manusia (antropogenik).Daerah sekitar sekitar titik longsoran mulanya kawasan konservasi berkembang menjadi kawasan budi daya.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved