Ojek Online Tolak Aturan Menhub

Berdiri Tiga Tahun Lalu, Kulir.jasabanjar Masih Bertahan di Tengah Persaingan Harga

BERDIRI 1 November 2015 dan resmi beroperasional 7 Maret 2016, sebagai usaha lokal, Kulir.jasabanjar hingga kini masih eksis.

Berdiri Tiga Tahun Lalu, Kulir.jasabanjar Masih Bertahan di Tengah Persaingan Harga
BPost Cetak
BPost cetak edisi Minggu (13/1/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - BERDIRI 1 November 2015 dan resmi beroperasional 7 Maret 2016, sebagai usaha lokal, Kulir.jasabanjar hingga kini masih eksis.

“Kami (Kulir.jasabanjar) masih kokoh bertahan di antara para 'raksasa' penyedia jasa serupa,” kata CEO & Founder Kulir.jasabanjar, Ramdi Murdana, Jumat (11/1).

Ramdi mengatakan jumlah kurirnya sebanyak tujuh orang saja.

“Dulunya lebih dari tujuh orang. Karena ada pindah dan bekerja kantoran, kurir yang masih aktif tinggal tujuh orang,” ujarnya.

Ditanya soal ketentuan operasional dari Kementerian Perhubungan, Ramdi mengatakan akan ada pengaruh terhadap ojek online lokal seperti Kulir.jasabanjar.

Baca: Ammar Zoni Lamar Irish Bella di Hadapan Ratusan Orang, Ajak Ibel Cari Ridho Allah SWT

Baca: Ojol Khusus Perempuan Terapkan Tarif Segini di Kilometer Pertama, ini Katanya Bila Tarif Rp 2.500

Baca: Menulis Pesan Soal Kematian, Facebook Ustadz Arifin Ilham Banjir Doa dan Tangis Bermunculan

Baca: Rossa dan Afgan Kompak Unggah Foto Mesra di Tokyo, Benarkah Keduanya Sudah Menikah?

Baca: Robby Abbas Bongkar Ciri Artis Terlibat Prostitusi, Gaya Hidup yang Tak Sesuai Nama

"Sedikit banyaknya akan ada yang diuntungkan dan tidak,” ujarnya.

Ramdi mengatakan kulir adalah perusahaan yang masih berkembang.

Untuk saat ini mereka belum punya program kesehatan atau asuransi untuk para driver.

"Namun bukan berarti kami tidak mendukung aturan pemerintah, kembali lagi ke dana yang kami miliki,” ujarnya.

“Kami mengharapkan harga antar penyedia jasa ojek online dapat bersaing dengan sehat. Jujur saja, kami (para ojek online lokal) sangat kewalahan dengan tarif murah yang ditawarkan oleh para 'raksasa',” tambahnya.

Terkait adanya batas tarif bawah, Ramdi mengaku sangat gembira.

“Kami sangat gembira. Memang semua pelanggan pasti memilih ongkos kirim yang murah, tanpa memperhatikan pendapatan atau bagi hasil yang kami terima. Sumber pendapatan ojek lokal adalah dari ongkos kirim, bukan dari saham atau profit share dari penjual (khususnya untuk beli makanan) yang menaikan harga jualnya untuk setor ke ojek onlinenya,” ujarnya.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved