Berita Kotabaru
Dinkes Tetapkan Kotabaru Endemis DBD, Kasus TerbanyaK Ada di Kecamatan ini
Berdasar catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) sampai dengan minggu kedua Januari 2019 setidaknya ada 24 kasus disebabkan karena gigitan nyamuk
Penulis: Herliansyah | Editor: Eka Dinayanti
BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Kasus demam berdarah dangue (DBD) Kotabaru melonjak.
Berdasar catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) sampai dengan minggu kedua Januari 2019 setidaknya ada 24 kasus disebabkan karena gigitan nyamuk aedes aegypti.
Terus menaiknya jumlah kasus DBD terjadi secara masif, Dinkes pun menetapkan Kabupaten Kotabaru menjadi daerah endemis DBD.
Hal itu dikemukakan Kepala Dinkes Kotabaru H Akhmad Rivai, sebanyak 24 kasud DBD tercatat di instansinya tersebar di beberapa kecamatan, kecamatan Pulaulaut Utara tertinggi yakni 19 kasus.
Sedangkan beberapa kecamatan lainnya antara lain, kecamatan Kelumpang Selatan, Sampanahan, Sungaidurian, Kelumpang Hilir, dan Kelumpang Hulu masing-masing satu kasus.
Baca: Detik-detik Prabowo Subianto Tenangkan Pendukungnya Saat Sebut Program Pemerintah Presiden Jokowi
Baca: Perubahan Sikap Ayu Ting Ting pada Ivan Gunawan Ditangkap Ruben Onsu, Benih Cinta?
Baca: Sule Bertukar Gaya dengan Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, Ini yang Terjadi Kemudian
Rivai mengakui melonjaknya kasus DBD, selain ada ditemukan jentik. juga adanya penderita DBD, tetapi tidak ada penderita yang meninggal, dibanding kasus tahun sebelumnya pada 2016.
"Alhamdulillah tidak ada penderita meninggal. Semua sembuh," kata Rivai kepada banjarmasinpost.co.id, Selasa (15/1/2019).
Ditambahkan Rivai, penetapan status Kabupaten Kotabaru masuk daerah endemis, karena dalam dua tahun terakhir kasus terjadi secara masif.
"Ya wilayah ditemukan jentik terus bertambah (meluas)," ujar Rivai.
Terakhir dalam pekan ini ditemukan penderita DBD di wilayah Perumnas Blok F, desa Semayap, Kecamatan Pulaulaut Utara Kotabaru.
Menyusul hal itu, didampingi stafnya, Rivai langsung memimpin kegiatan pengasapan (fogging) di permukiman warga di wilayah Perumnas, salah satu upaya pencegahan dini.
Baca: Respons Tompi Saat Pidato Kebangsaan Prabowo Jelang Pilpres 2019 Singgung Gaji Dokter
Baca: Dian Sastro Singgung Gading Marten & Gisella Anastasia Besanan dengan Raffi Ahmad & Nagita Slavina
Baca: Kondisi Terkini Titi Wati Wanita Berbobot 220 Kg di Palangkaraya, Dokter Bakal Operasi Hari Ini
Selain tetap mengimbau masyarakat mengedepankan pola 3M (mengubur, menguras, menutup) serta memberlakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).
"Kami juga mengimbau masyarakat mendukung kegiatan fogging. Karena biasanya ada juga warga yang tidak mau rumah dan halamannya di fogging. Itu kadang menjadi kendala kita," terang Rivai.
Kedepannya upaya menekan pergerakan kasus DBD, Rivai sudah merencanakan pengoptimalan petugas juru pemantai jentik (Jumantik) nyamuk DBD.
Selain dilakukan petugas kesehatan, jumantik juga melibatkan masyarakat lingkungan sekitar yang terindikasi.
"Pengoptimalan petugas jumantik salah satu upaya pencegahan," pungkasnya.
Warga sekitar kegiatan fogging tidak hanya menyambut baik langkah cepat dilakukan petugas Dinkes, mereka antusias, bahkan mempersilakan petugas melakukan pengasapan seluruh ruang dan halaman rumah mereka.
BANJARMASINPOST.co.id/helriansyah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/petugas-dinkes-kotabaru-saat-melakukan-pemberantasan-sarang-nyamuk.jpg)