B Focus Banua Anam

Pengrajin Purun Hanya Untung Rp 1.000-Rp 2.000 dari Selembar Tikar, Padahal Biaya Produksi Tak Murah

Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) memiliki banyak pengrajin anyaman berbahan purun maupun eceng gondok.

Pengrajin Purun Hanya Untung Rp 1.000-Rp 2.000 dari Selembar Tikar, Padahal Biaya Produksi Tak Murah
BPost Cetak
B Focus edisi cetak Rabu (16/1/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) memiliki banyak pengrajin anyaman berbahan purun maupun eceng gondok.

Warga Desa Keramat, Kecamatan Haur Gading, mayoritas warganya merupakan pengrajin anyaman purun menjadi tikar.

Warga mendapatkan bahan baku purun dari hutan atau membeli di pasar.

Sayangnya saat ini pengrajin sedih, harga jual tikar yang sangat rendah, seperti dirasakan Imah.

Untuk membuat satu tikar purun Imah perlu waktu cukup lama.

Baca: Tangisan Anang Hermansyah Dengar Curhat Aurel Hermansyah, Ashanty Dibuat Terharu

Baca: Heboh Ikan Kerapu Raksasa Berbobot 100 Kg Ditangkap Nelayan Muara Asam-asam, Ini Faktanya

Baca: Cara Ifan Seventeen Obati Rindu, Posting Foto Band Seventeen Manggung Sebelum Tsunami Banten

Mulai membeli bahan baku atau mencabut tanaman purun yang biasa tumbuh di daerah rawa.

Lalu membersihkan dan memotongnya hingga tersisa bagian batang, kemudian disortir sesuai panjang dan besarnya.

Purun itu dijemur sampai kering lalu diikat ditumbuk menggunakan alat sederhana berbentuk seperti kincir menggunakan tenaga diesel.

Setelah purun menjadi pipih baru dianyam sesuai ukuran yang diinginkan.

Upah menutuk atau menumbuk purun ikat Rp 3.500 untuk satu gulung purun dalam satu gulung pun bisa menghasilkan 8 hingga 10 lembar tikar.

Baca: Pengakuan Presiden Jokowi Soal Persiapannya Jelang Debat Pilpres 2019, Kumpulkan Ketum Partai

Baca: Postingan Terakhir Mantan Istri Sule Saat Ramai Kabar Naomi Zaskia Calon Ibu Tiri Rizky Febian

Baca: Cek Link Pengumuman Hasil Akhir CPNS 2018 Kemenag & Jadwal Pemberkasan Via Kemenag.go.id

"Sayangnya tikar saat ini dibeli cuma sekitar Rp 4.000 per lembar. Sehari hanya menghasilkan tiga lembar. Hasil dari penjualan kembali diputar untuk membeli bahan baku dan upah menutuk," ungkapnya.

Dari penjualan itu, Imah mendapatkan keuntungan bersih Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per lembar tikar.

Padahal pembuatannya tidak murah karena bergantung juga pada solar untuk menggerakkan mesin penumbuk purun.

Para pengrajin berharap harga jual bisa meningkat di tingkat pengumpul atau bisa juga mendapat bantuan dari pemerintah untuk pemasarannya.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved