Berita Tabalong

Meski Tak Miliki Seragam, Bocah KAT Sialing Tabalong Ini Tetap Semangat Belajar

Semangat belajar lima bocah dari Komunitas Adat Terpencil (KAT) Sialing, Desa Nawin, Kecamatan Haruai, Kabupaten Tabalong, sungguh luar biasa.

Tayang:
Penulis: Dony Usman | Editor: Didik Triomarsidi
Banjarmasinpost.co.id/Dony Usman
Semangat belajar lima bocah dari Komunitas Adat Terpencil (KAT) Sialing, Desa Nawin, Kecamatan Haruai, Kabupaten Tabalong, sungguh luar biasa. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG - Semangat belajar lima bocah dari Komunitas Adat Terpencil (KAT) Sialing, Desa Nawin, Kecamatan Haruai, Kabupaten Tabalong, sungguh luar biasa.

Meski tak ada seragam selayaknya murid pada umumnya, lima bocah ini tetap rajin belajar di sekolah PAUD sekaligus TK Unge Maeh KAT Sialing.

Saat banjarmasinpost.co.id, menyambangi sekolah ini beberapa hari lalu, lima bocah dengan usia rata-rata 3-5 tahun terlihat asyik menyusun puzzle.

Didampingi seorang perempuan dewasa, sesekali pula bocah-bocah bercanda dan berlarian mengitari tiga meja kayu yang disatukan sebagai tempat mereka belajar.

Baca: Balasan Menohok Mulan Jameela Saat Cara Duduk Istri Ahmad Dhani Itu Dihujat Netizen

Baca: Gerhana Bulan & Supermoon 2019 Malam Ini, Ustadz Abdul Somad Cerita Gerhana Zaman Rasulullah

Baca: Sempat Terbakar, Kini Pelayanan di RSUD Balangan Normal, Pasien Sempat Dilayani di Tempat Ini

Ya. Itulah gambaran singkat suasana di PAUD sekaligus TK Unge Maeh yang muridnya merupakan anak-anak dari penghuni KAT Sialing.

KAT Sialing diresmikan Mensos RI tahun 2017 lalu dengan fasilitas 45 rumah, balai masyarakat dan 1 bangunan sekolah PAUD dengan 1 lokal kelas.

PAUD yang kini sekaligus juga berfungsi menjadi TK ini dibangun permanen dari dana Pemkab Tabalong melalui dinas pendidikan.

Secara fisik bangunan PAUD di KAT Sialing sangat representatif dan terlihat kokoh karena dibangun dari beton berlantai keramik.

Tapi kondisi ini nampak tak sejalan dengan keadaan lima bocah yang saat ini tengah belajar untuk masa depannya.

Mereka tak pernah mengenal seragam sekolah karena setiap hari hanya mengenakan pakaian harian untuk ke sekolah.

Bukan hanya itu saja, meski meja dan bangku terbilang memadai dan dengan kondisi baik, tapi keberadaan fasilitas lain seperti buku bacaan dan alat tulis ternyata sangat minim.

"Dulu saya sempat belikan sendiri buku, tapi karena sudah lama jadi sekarang sudah habis," kata Leni Marlina, satu-satunya pengajar di PAUD dan TK Unge Maeh.

Sedangkan terkait seragam masih belum mampu untuk membelikan sehingga terpaksa anak-anak ke sekolah hanya dengan baju biasa.

Ditambakan guru yang honornya dibayar oleh desa ini, awal pertama proses belajar mengajar dimulai pada tahun lalu dengan murid 10 orang.

Kemudian karena sudah berjalan satu tahun ada lima orang yang sudah lulus dan sekarang tersisa lima orang.

Dari lima orang murid yang ada ini, ada yang masih usia PAUD dan ada yang sudah TK. Kelimanya dalam belajar dijadikan satu karena memang hanya ada 1 lokal kelas dan 1 orang guru.

Terpisah Kepala Desa Nawin, Marhani, menyampaikan, dirimya sangat berharap sekolah TK yang memiliki guru dan murid yang sangat semangat ini bisa berdiri sejajar dengan sekolah lainnya.

Disampaikannya, pihak desa sendiri sebenarnya ingin berbuat lebih namun terkendala dengan ketentuan yang ada.

Sehingga desa hanya bisa memberikan honor Rp. 500 perbulan kepada guru yang telah mau mengabdikan diri mendidik anak-anak KAT Sialing.

Untuk orang tua murid sendiri, imbuhnya, tidak mungkin dibebani dengan SPP, mereka sadar untuk menyekolahkan anaknya saja susah sangat bagus.

"Kalau dibebani maka akan jadi tambahan beban lagi bagu masyarakat di KAT Sialing, terkait seragam murid yang belajar diharapkannya ada pihak-pihak yang terpanggil untuk bisa memfasilitasi soal ini," ucapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved