Berita Kabupaten Banjar
Desa ini Surganya Bunga Melati, Para Wanitanya Sehat dan Segar, Rahasianya Hanya ini
Jika Anda menyukai bunga melati (jasminum), datang lah ke Desa Jingah Habangilir di Kecamatan Karangintan atau ke Desa Labuantabub
BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Jika Anda menyukai bunga melati (jasminum), datang lah ke Desa Jingah Habangilir di Kecamatan Karangintan atau ke Desa Labuantabub di Kecamatan Martapura.
Di dua desa bertetangga itu, bola mata Anda akan tersegarkan oleh hamparan kebun bunga melati yang menghijau ranum bertabur warna putih kuntum bunganya.
Selain dua desa tersebut, ada tiga desa lainnya yang juga banyak hamparan tanaman bunga melatinya yakni Desa Pandakdaun dan Bincau di Kecamatan Martapura.
Lalu, satu desa lagi yakni di Jingah Habangulu, Kecamatan Karangintan.
Namun yang paling dominan berada di Desa Jingah Habangilir.
Pemilik kebun melati terluas sekaligus pioneer-mya juga berada di desa ini yakni H Abdul Muin.
Jadi di kawasan tersebut kelak juga dikembangkan aneka tanaman bunga lainnya.
Di antaranya bunga mawar, kenanga, dan kantil.
Baca: Penjelasan Hotman Paris Soal Kedekatannya dengan Habib Rizieq Shihab, Juga Dukungan Pilpres 2019
Baca: Abu Bakar Baasyir Terancam Batal Bebas, Wiranto Sebut Pembebasan Perlu Pertimbangan
Baca: Raline Shah Ungkap Kedekatannya dengan Suami Nikita Mirzani, Dipo Latief, Sempat Berada di Jepang
Baca: Nikita Mirzani Dilaporkan 4 Orang, Ada Sajad Ukra dan Kasus Gugatan Cerai dengan Dipo Latief
Baca: Daftar 21 Artis Terlibat Prostitusi Online Selain Vanessa Angel dan Eks 2 Finalis Puteri Indonesia
Apalagi ragam jenis bunga ini juga telah akrab dengan kalangan petani setempat.
"Kelak mereka juga dilatih untuk merangkai dan mengolah serta mengawetkan bunga tersebut," Kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Banjar HM Fachry didampingi Kasi Pembinaan Mutu Pengolahan dan Pemasaran Dinas TPH Banjar Ida Fitriani.
Pengolahan penting dilakukan saat panen raya yang kerap dibarengi anjloknya harga jual.
Karenanya perlu teknologi pascapanen seperti mengolahnya menjadi minyak mawar, minyak melati, serta awetan bunga sebagai pajangan.
Selain itu, nanti pihaknya bersama aparat desa setempat akan membuat area swafoto sehingga menarik untuk dikunjungi wisatawan.
Jadi, layak dijadikan kampung bunga sebagai wisata edukasi berbasis pertanian.
Pemandangan yang sangat indah baginya, apalagi kala itu di ufuk timur terlihat awan memerah bercampur putih temaram.
Selepas salat berjemaah, bebernya, sebagian ibu-ibu dan remaja putri bersiap menuju perkebunan melati.
Sambil bercanda gurau mereka berombongan berjalan kaki kurang lebih 500 meter dari rumah mereka.
"Sungguh asyik pemandangan pagi itu. Pantas saja ibu-ibu dan remaja putri di Jingah Habangilir dan Labuantabu selalu sehat dan fisik tetap prima. Tanpa disadari, mereka telah melakukan olahraga jogging secara rutin," kata Nove.
Minggu pagi itu, jelasnya, rombongan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Banjar ikut berkunjung dan berwisata petik bunga melati di Jingah Habangilir.
Termasuk dirinya.
Muin adalah pioneer pembudidaya nunga melati di Kabupaten Banjar.
Saat ini luasan kebunnya mencapai tiga hektare.
Sebanyak 95 orang petani Banjar yang saat ini menggeluti usahatani kebun bunga melati.
Mereka tersebar di lima desa yakNi Jingah Habangilir, Jingah Habangulu, dan Pandakdaun di Kecamatan Karangintan. Lau, di Desa Labuantabu dan Bincau di Kecamatan Martapura.
Data pada Dinas TPH Banjar, total luasan kebun melati saat ini 21,38 hektare dengan produksi 52,5 kilogram per hektare.
Data pada Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Banjar, kebun melati tersebar di lima desa yakni Pandakdaun dan Bincau di Kecamatan Martapura.
Lalu, di Desa Jingah Habangulu, Jingah Habangilir, dan Labuantabu di Kecamatan Karangintan.
Sekitar tiga hektare luasan kebun melati milik Muin.
Telah lumayan lama ia mengembangkan usahatani ini yakni sejak 1969 silam atau sejak sekitar 30 tahun yang lalu.
Muin mengatakan membudidayakan tanaman melati tidak begitu sulit.
Pasalnya tanaman ini sangat adaptif dan cocok dengan kondisi alam di Kalsel termasuk di Kabupaten Banjar.
Kestabilan harga teramat penting mengingat harga komponen biaya produksi yang juga terus meningkat.
Mulai dari harga bibit, obat-obatan pestisida dan tenaga buruh tani.
Saat normal, harga bunga melati Rp 6.000-8.000 per cangkir (cangkir belimbing atau seukiran cangkir kecil kopi).
Tapi, saat jeblok cuma Rp 500 per cangkir.
Sedangkan saat harga mahal bisa mencapai Rp 20 ribu per cangkir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/bpost-blitz-edisi-cetak-selasa-2212019.jpg)