Berita Tanahlaut

Banjir Pabahanan Pelaihari, Anak-anak Melintas Digenangan Air Setinggi Lutut Orangtua

Sudah dua hari ini anak-anak warga Gang Teratai RT 15 Kelurahan Pabahanan, Kabupaten Tanahlaut tak bisa melintas di jalan pintas menuju ke TPA di RT 8

Banjir Pabahanan Pelaihari, Anak-anak Melintas Digenangan Air Setinggi Lutut Orangtua
Banjarmasinpost.co.id/Milna Sari
Warga dan pihak kelurahan memantau banjir di Kelurahan Pabahanan, Kabupaten Tanahlaut, Rabu (23/1/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Sudah dua hari ini anak-anak warga Gang Teratai RT 15 Kelurahan Pabahanan, Kabupaten Tanahlaut tak bisa melintas di jalan pintas menuju ke TPA di RT 8.

Jalan pintas yang sebelumnya sudah dibangun melalui proyek PNPM habis tertutup banjir.

Jalan yang membelah sawah warga ikut digenangi air, sehingga jika ingin melintas anak-anak harus melintasi banjir setinggi lutut orang dewasa.

"Biasanya anak-anak bisa sepedaan lewat jalan ini ke TPA tapi sekarang tidak bisa lagi mereka harus memutar jalan yang agak jauh," ujar salah satu warga Razi, Rabu (23/01/2019) kepada Banjarmasinpost.co.id.

Baca: Hasil Indonesia Master 2019, Jojo, Ginting, Fitriani Mulus ke 16 Besar, Ahsan/Hendra Juga Fajar/Rian

Baca: UPDATE Korban Banjir di Gowa Sumatera Selatan, Tim SAR Temukan Lagi 3 Jasad, Total Korban Jadi 11

Baca: Petugas Derektorat Narkoba Polda Kalsel Tangkap 3 Orang, Temukan 48 Gram Sabu

Baca: Terungkap Mayat di Kompleks Rahayu Banjarmasin Driver Online Grab, Wajahnya Menghitam

Kondisi banjir dan menutup jalan pintas tersebut terang Razi sudah tiga kali terjadi selama 2019 ini. Tak hanya digunakan oleh anak-anak yang menuju ke TPA, jalan itu juga menjadi jalan bagi warga yang ingin menyeberang ke RT 8 dan menjadi jalan menuju sawah warga.

"Jalannya sudah ditinggikan dari ketinggian sawah tapi masih tetap kebanjiran juga," sebutnya.

Jika di jalan lintas ketinggian banjir mencapai lutut orang dewasa di sawah ketinggian banjir mencapai dada orang dewasa. Hal itulah sebut Razi membuat bahaya bagi warga yang memaksakan melintas berjalan kaki di jalan.

"Apalagi anak-anak tidak pernah warga ijinkan, kalau mereka mau ke seberang biasanya naik jukung," sebutnya.

Selain Razi, warga lain Yanto mengatakan juga khawatir dengan kondisi banjir kali ini. Pasalnya tak hanya memutus akses jalan, lahan sawah miliknya seluas 20 borong yang sudah ditanami padi dengan usia sekitar 1,5 bulan juga habis tertutup banjir.

"Ini memang yang paling parah di tahun ini, kemarin cuma sehari sudah surut dan tidak sedalam ini,"sebutnya.

Ia berharap ada solusi untuk daerah itu agar tak selalu menjadi langganan banjir meskipun persawahan di Pabahanan Baru memang merupakan aliran DAS dan tergolong rendah.

Sementara lurah Pabahanan, Wisnu Kuntarto mengatakan memang satu-satunya solusi bagi sawah warga adalah irigasi. Namun untuk jalan pintas warga seharunya ditinggikan namun tetap sulit karena memang dataran rendah.

"Airnya itu kan dari beberapa kampung mengalir ke daerah itu," ujarnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Milna)

Penulis: Milna Sari
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved