Liga Indonesia

Wawancara Ekslusif Joko Driyono Terkait Tudingan Vigit Waluyo, Persija Jakarta Diatur Juara Liga 1

Wawancara Ekslusif Joko Driyono Terkait Tudingan Vigit Waluyo, Persija Jakarta Diatur Juara Liga 1

Wawancara Ekslusif Joko Driyono Terkait Tudingan Vigit Waluyo, Persija Jakarta Diatur Juara Liga 1
TRIBUNNEWS
Direktur utama PT Gelora Trisula Semesta (GTS) Joko Driyono 

Di kongers, kita endorse pembentukan lembaga independen yang fokus mengelola wasit. Kita sekarang dapat bantuan dari Jepang dan FIFA. Soal wasit asing, kami mendapatkan masukan dari FIFA untuk tidak dilakukan, Kecuali, programnya pertukaran wasit. Tapi kalau kita mengunakan wasit asing, keputusan kita no. Lembaga independen tadi strukturnya ada 3 hal.

Pertama menyangkut masalah sistem dan infrastrtuktur di unit. Kedua, manajemennya. Kita butuh ahli. Kita akan dibantu dari beberapa orang terbaik dari negara lain. Yang paling mendasar adalah perangkat pertandingan. Layer 1 dan 2 okey. Namun kita sadari resource butuh kerja keras untuk meningkatkan kualitasnya. Itu didampingi oleh FIFA melalui FIFA Award Programe yang tahun 2018 kemarin sampai 15 miliar hanya fokus untuk pengembangan.

Tantangan liga profesional 2019 khususnya masalah wasit, itu dua yakni menyangkut performance dan trust. Mungkin performance menjadi tantangan karena kualitas wasit kita. Wasit-wasit Indonesia memang masih tertinggal kalau indikatornya wasit elit di Asia. Tapi kami mencoba agar trust tersebut terbangun dengan lembaga independen tadi.

Oleh karenanya, setiap kesalahan yang ada wasit maka kesimpulan yang ada di publik murni karena teknikal eror. Bukan karena kesengajaan atau dalam tanda petik non teknis. Inilah yang kami janjikan di level kongres untuk mengembalikan kepercayaan tadi.

9. Lalu apakah Anda punya strategi agar kompetisi bersih dari masalah seperti pengaturan skor?

Pengaturan skor kalau saya boleh pilah inisiatifnya, itu orang punya ilustrasi dikaitkan dengan judi. Ada juga yang punya note bukan mengatur skornya tetapi keinginan klub untuk menang.

Dua hal tersebut adalah lawan dari football integrity. Kalau elemennya perangkat pertandingan, itu bagian dari PSSI. Perangkat pertandingan harus beriringan dengan integrity dan kompetensinya.

Bisa saja kompetensinya kita butuh waktu untuk mengupdate kualitas mereka memimpin pertandingan yang sulit dengan keputusan-keputusan terbaik. Jika itu masih menjadi tantangan, kami ingin trustnya muncul. Kami ingin memastikan pertandingan harus steril dari hal-hal melanggar.

Hal lain terkait pengaturan skor adalah hal yang di luar PSSI. Siapa? Pelaku yang di lapangan misalnya pemain. Ini tidak boleh berhenti untuk mengkampanyekan bahwa kemenangan diketahui setelah pertandingan. Bukan sesuatu yang diketahui sebelum laga. Jika itu terjadi, penghakiman publik akan sangat keras. Publik akan memisahakan diri untuk say no sepak bola saat sepak bola tidak bisa menjaga integritasnya.

Endingnya memastikan law inforcement bekerja sebaik mungkin. Kita punya Komdis, Komite Etika, dan Komite Ad Hoc. Semoga ini jadi pekerjaan besar bahwa tidak ada toleransi.

9. Ada hal yang baru di kompetisi musim ini?

Tidak ada perubahan ekstrim. Yang lebih fokus adalah bagaimana kompetisi ditingkatkan kualitasnya. Dari level administrasi sampai ke level implementasi pertandingan. Regulasi tidak ada perubahan yang baru. Format kompetisi tetap.

10. Apakah PT LIB akan tetap sebagai operator kompetisi musim ini?

Sampai saat ini, tidak ada perubahan. RUPS akan digelar dalam satu atau dua pekan. Lebih kepada independensi perusahaan PT LIB. PT LIB memastikan rencana bisnis. PSSI punya catatan yang diterbitkan RUPS tadi. Cita-cita kita bisa terpenuhi melalui Liga 1 2019.

11. Soal timnas. Vietnam berhasil menembus 100 dunia. Negara tersebut menjuarai Piala AFF 2018 dan berhasil menembus perempat final Piala Asia 2019. Timnas U-23 lolos final Piala Asia U-23 dan semifinal Asian Games 2018. Tim tersebut dilatih pelatih Asia. Kenapa PSSI tidak berkaca kepada Vietnam?

Bagi PSSI memilih Simon bukan keputusan tiba-tiba. Ada pertimbangan bahwa ini pelatih yang memahami karakter sepak bola, catatan prestasi, secara kualifikasi memenuhi, dan ini sebagai bagian satu dari elemen suksesnya timnas.

Kami meyakini timnas senior bukan tim yang dipersiapkan melalui tc jangka panjang. Akhirnya elemen kompetisi tetap mendampingi bagian sukses dari timnas ini. Selebihnya lagi, PSSI mendukung seluruh tim yang akan dikomandoi Simon. Itu menyangkut masalah fasilitas, uji coba, dan lain-lain. Karena itu, kami anggap Simon cocok. Kita tidak melihat apa yang dilakukan Vietnam atau negara lain. Bahwa ada fakta Vietnam berprestasi, ini bukan referensi kenapa enggak follow itu.

12. Kalau target PSSI juara SEA Games, kenapa bukan Simon yang latih timnas U-22?

Kami punya pengalaman saat timnas senior dan U-23 ditangani satu pelatih. Namun, seperti kehilangan rencana lain untuk menyiapkan tim karena basisnya anak-anak SEA Games dan Luis Milla. Kami berkaca dengan itu. Setiap pelatih harus fokus ke salah satu timnas. Senior dan timnas U-23 sama-sama penting. Lebih penting lagi Simon di Piala AFF 2020. Kami ingin sukses Piala AFF 2020 dipersiapkan jauh-jauh hari.

13. Bagaimana kelanjutan filanesia setelah Luis Milla tidak dipertahankan?

Filanesia lebih fokus ke grassroot and youth. Pelatih-pelatih muda dengan konsep sepak bola ala Indonesia. Ini adalah dokumen yang hidup dan dilakukan proses penyesuaian, koreksi, dan adaptasi. Kami memastikan filanesia tetap berjalan. Proses adaptasinya dan penyempurnaan terus berjalan di semua kelompok timnas.

14. Selama PSSI dipegang Edy Rahmayadi, berapa persen program PSSI berjalan?

Sebenarnya, Pak Edy atau saya tidak ada program yang dijalankan atas inisiatif tunggal dari seorang pemimpin. Ini adalah inisiatif kolektif yang diputuskan di kongres. Kita pada Januari 2018 telah merancang program jangka panjang. Jadi Pak Edy atau saya harus mengikuti program yang dijalankan. Saya menganggap apa yang dilakukan pak Edy, semua confirm dengan apa yang kita rencanakan. Yang belum adalah menjawab harapan publik soal prestasi timnas Indonesia.

Pekerjaan saya menggambarkan sebagai pemain cadangan yang turun saat pemain sebelumnya diganti. Nah pekerjaan saya fokus mencetak gol. Di luar ada pelatih, manajer, yang melihat kita. Pemain cadangan yang tidak pantas ditarik kapanpun kita harus ikut keputusan tersebut. Siapa pemain cadangan? Mereka adalah anggota, member, dan voter.

Ditambah ada yang di tribune penonton dan penonton layar kaca. Mereka mengawasi kami. Tapi saya tidak mungkin mengalokasikan energi saat main di tengah lapangan, saya bercakap-cakap dengan orang yang di luar. Fokus saya harus cetak gol. Itulah yang saya bayangkan pekerjaan terpenting.

15. Anda bilang target PSSI adalah membawa timnas prestasi. Salah satu masalah dari timnas adalah minimnya penyerang. Apa solusi dari Anda?

Secara umum bisa saya sampaikan tidak ada timnas yang kuat tanpa kompetisi yang kuat. Karena itu, mari gagasan ini dikompilasi dengan gagasan lain. Saya menganggap sepak bola lumayan kompleks. Kita ada fase di mana ada jeda, ada momen untuk berdiskusi termasuk mengenai apa yang Anda sampaikan. Kami termasuk punya kewajiban mengelola gagasan sampai diputusakan adjusment yang baik seperti apa.

16. Sampai kapan Anda bertahan di PSSI?

Saya mengilustrasikan saat berada di tengah lapangan. Saya enggak boleh memikirkan apa yang dibicarakan ofisial. Saat mereka call Joko ke luar dari lapangan untuk diganti, saya punya kewajiban mengeksekusi inisiatif itu. Sepak bola ini harus take off dan landing dari landasan yang sama. Jadi inisiatif anggota adalah kedaulatan yang paripurna atas masa depan sepak bola ini. Tidak ada yang bisa menghalangi termasuk saya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Wawancara Eksklusif: Joko Driyono, Mau Ngapain di PSSI? ",

Editor: Restudia
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved