Cuaca Ekstrem

Musim Penghujan Sawah Selalu tenggelam, saat Kemarau Petani Menghadapi Kekeringan

Syahbini Syahril, ketua Kelompok Tani Usaha Bersama, Desa Sungaikitano, Selasa (29/1), mengatakan, tata air pertanian di desanya sejak dulu

Musim Penghujan Sawah Selalu tenggelam, saat Kemarau Petani Menghadapi Kekeringan
BPost Cetak
BPost edisi cetak Rabu (30/1/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Syahbini Syahril, ketua Kelompok Tani Usaha Bersama, Desa Sungaikitano, Selasa (29/1), mengatakan, tata air pertanian di desanya sejak dulu hingga sekarang tak pernah tertuntaskan.

Tiap musim penghujan selalu tenggelam, sebaliknya saat kemarau kekeringan.

Sebenarnya telah ada fasilitas tata air yakni saluran berbentuk huruf 'U' dilengkapi dua unit pintu air.

Namun sejak beberapa tahun terakhir tak berfungsi secara memadai akibat sedimentasi (pendangkalan) saluran yang kian parah dan makin banyaknya tanggul yang longsor (erosi) sehingga air dari Sungai Martapura masuk ke persawahan.

Menyikapi persoalan tersebut, para petani setempat melakukan urun rembug, Senin (28/1).

Baca: Penampakan Aurel Hermansyah Pakai Hjab, Putri Ashanty & Anang Hermansyah Dikomentari Ria Ricis

Baca: Pengakuan Tak Terduga Hotman Paris Soal Cewek-cewek Cantiknya, Ria Ricis Sebut Seperti Ariel NOAH

Baca: Keluhan Ahmad Dhani yang 2 Hari di Penjara Diungkap Fahri Hamzah, Ini Cerita Suami Mulan Jameela

Baca: Gisella Anastasia Bicara Pria yang Mendekati Pasca Cerai dengan Gading Marten, Gisel Sudah Move On?

Baca: Reaksi Inul Daratista Diminta Cari Berondong dan Selingkuh dari sang Suami, Adam Suseno

"Kesimpulan pertemuan itu, kami meminta pemerintah memperbaiki tanggul karena yang ada sekarang sudah banyak yang rumbih (longsor). Selain itu juga perlu mendalami salurannya," sebut Syahbina.

Hanya melalui dua upaya tersebut persoalan genangan air di Sungaikitani bisa diminimalisasi.

"Kalau perlu tanggulnya dibikin permanen dari beton supaya tidak mudah rumbih. Kalau tanggulnya sudah aman, pintu air otomatis bisa berfungsi optimal lagi dan genangan di sawah tidak terlalu dalam karena tidak lagi terluapi air dari sungai," sebutnya.

Dikatakannya, panjang bentang saluran di desanya sejauh 4,2 kilometer.

Ini juga mendesak diperdalam agar mudah membuang air saat musim penghujan dan bisa mengalirkan air dari sungai saat musim kemarau.

Lebih lanjut ia mengatakan akibat buruknya tata air pertanian tersebut, sebagian hamparan persawahan sulit digarap.

Dari luasan sawah 116 hektare, baru sekitar 60 persen yang telah tergarap.

"Jika tata airnya bagus, pasti semuanya bisa digarap. Pemerintah tak akan rugi menggelontorkan anggaran besar untuk perbaikan sarana prasarana tata air di Sungaikitano karena panenan di sini sangat bagus, per borongnya 12 blek (1 hektare=35 borong)," kata Syahbina.

Tanaman padi di kampungnya juga masih alami atau organik karena tak pernah menggunakan pupuk buatan.

Jenis padi lokal yang dibudidayakan petani setempat antara lain Siam Mutiara, Siam Unus, dan Adil.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved