Cuaca Ekstrem

Sawah Bak Lautan, Para Petani Desa Sungaikitano Tak Bisa Bercocok Tanam, Hanya ini yang Dilakukan

TINGGINYA intensitas curah hujan sejak sepekan terakhir memunculkan dampak yang kompleks di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Sawah Bak Lautan, Para Petani Desa Sungaikitano Tak Bisa Bercocok Tanam, Hanya ini yang Dilakukan
BPost Cetak
BPost edisi cetak Rabu (30/1/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - TINGGINYA intensitas curah hujan sejak sepekan terakhir memunculkan dampak yang kompleks di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Sawah di Desa Sungaikitano, Kecamatan Martapura Timur, misalnya, kini tenggelam dan berubah bak lautan.

Pantauan di lapangan, Selasa (29/1), sejauh mata memandang yang terlihat cuma genangan air yang disertai gelombang kecil yang menari-nari di permukaannya.

Sama sekali tak terlihat 'wajah' persawahan karena kondisinya benar-benar tenggelam terluapi air bah dari guyuran hujan.

"Memang sudah seperti danau atau lautan saja keadaan sawah di desa kami saat ini. Genangan airnya dalam sekali. Di bagian terdalam, kalau orang dewasa bercebur di situ, maka bakal tenggelam seluruhnya, tak kan kelihatan lagi kepalanya," ucap Syahbini Syahril, ketua Kelompok Tani Usaha Bersama, Desa Sungaikitano, Selasa (29/1).

Baca: Penampakan Aurel Hermansyah Pakai Hjab, Putri Ashanty & Anang Hermansyah Dikomentari Ria Ricis

Baca: Pengakuan Tak Terduga Hotman Paris Soal Cewek-cewek Cantiknya, Ria Ricis Sebut Seperti Ariel NOAH

Baca: Keluhan Ahmad Dhani yang 2 Hari di Penjara Diungkap Fahri Hamzah, Ini Cerita Suami Mulan Jameela

Baca: Gisella Anastasia Bicara Pria yang Mendekati Pasca Cerai dengan Gading Marten, Gisel Sudah Move On?

Baca: Reaksi Inul Daratista Diminta Cari Berondong dan Selingkuh dari sang Suami, Adam Suseno

Ia menuturkan bentuk area persawahan di Sungaikitano mirip wajan yakni cekungan yang makin ke tengah kian dalam.

Bagian terdangkal yakni di tepi, saat ini kedalaman genangannya rata-rata setinggi dada orang dewasa.

Karenanya, saat ini sama sekali tak ada aktivitas apa pun yang bisa dilakukan petani di persawahan setempat.

"Yang bisa kami lakukan sekarang ini ya cuma mencari ikan. Tak bisa kami bercocok tanaman sayuran karena semua lahan tenggelam," sebut Syahbina.

Tenggelamnya sawah saat musim penghujan, ucapnya, selalu terjadi tiap tahun.

Namun tahun ini kedalaman genangan cukup tinggi.

Tak ada yang bisa dilakukan kecuali berharap cuaca segera membaik sehingga genangan segera surut.

Pasalnya bulan sepekan mendatang atau awal Februari sudah harus mulai menyemai (teradak) benih padi lokal.

Waktu tanam pada Mei hingga Juli mendatang.

Penyiapan bibit padi lokal memang butuh waktu agak lama karena mesti dilakukan pembesaran hingga dua atau tiga kali tahapan.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved