Berita Tanahbumbu

Harga Sawit Lesu, Petani Kabupaten Tanahbumbu Kian Menjerit dan Alih Profesi Jadi Kuli Bangunan

Terus merosotnya harga tandan buah segar (TBS) makin membuat para kalangan petani kebut sawit gelisah. Bahkan diketahui penurunan harga sawit

Harga Sawit Lesu, Petani Kabupaten Tanahbumbu Kian Menjerit dan Alih Profesi Jadi Kuli Bangunan
Istimewa
Ilustrasi: Seorang warga Kalteng sedang memanen tandan buah segar kelapa sawit dari kebunnya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Terus merosotnya harga tandan buah segar (TBS) makin membuat para kalangan petani kebut sawit gelisah. Bahkan diketahui penurunan harga sawit yang secara masif terjadi hingga bertahun-tahun.

Bahkan diketahui penurunan ini terjadi hampir di semua daerah di Kalimantan Selatan, tidak kecuali para petani kepala sawit di wilayah Kabupaten Tanahbumbu.

Terus merosotnya harga TBS, bahkan ada sebagian petani di kabupaten yang berjuluk Bumi Bersujud ini 'banting setir'. Berpindah profesi dari petani bekerja menjadi kuli bangunan..

Tidak sedikit pula, petani kebun kelapa sawit yang bekerja sebagai buru tambang manualan, demi untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

Junaidi misalnya, petani kelapa sawit desa Maju Sejahtera--eks transmigrasi--,Kecamatan Karang Bintang, Kabupaten Tanahbumbu ini.

Menurut dia, terus merosotnya harga kelapa sawit kondisi normal--bukan buah pasir--terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuat kondisi perekonomian para petani di desa Maju Sejahtera terus terpuruk.

Baca: Terungkap Motif Perkelahian Berdarah di KS Tubun, Pelaku Dendam Istrinya Sering Diajak ke THM

Baca: Artis FTV Saphira Indah Meninggal Dunia Saat Hamil 5 Bulan, Ayu Ting Ting Ucapkan Kata Menyentuh Ini

Baca: Becerai dari Gading Marten, Gisella Anastasia Blak-blakan Soal Derita Gempi, Rindukan Sosok Pria Ini

Betapa tidak, harga sawit mereka jual ke tengkulak hanya bisa mencapai Rp 600 perkilogram.

"Itu buah sawit normal, bukan buoh pasir. Kalau buah pasir Rp 400 perkilogram," keluh Junaini kepada banjarmasinpost.co.id, kemarin.

Tak menepis, tidak stabilnya harga TBS ini membuat para petani, tambah Junaidi, memaksa mereka harus beralih profesi.

"Macam-macam. Ada yang kerja buruh bangunan ada juga yang serabutan. Aku, beralih kadang jadi kuli bangunan kadang juga ikut kerja di tambang manualan," ucapnya.

Halaman
12
Penulis: Herliansyah
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved