Berita HST

Tiap Tahun Janda di Hulu Sungai Tengah Ini Harus Mengganti Atap, Begini Kondisi Rumahnya

Kemiskinan masih menjadi persoalan di Hulu Sungai Tengah (HST). Contohnya, Sarniah janda 70 tahun ini masih harus berjuang untuk hidup sendiri.

Tiap Tahun Janda di Hulu Sungai Tengah Ini Harus Mengganti Atap, Begini Kondisi Rumahnya
Banjarmasinpost.co.id/Eka Pertiwi
Sarniah tinggal di rumah reot 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Kemiskinan masih menjadi persoalan di Hulu Sungai Tengah (HST). Contohnya, Sarniah janda 70 tahun ini masih harus berjuang untuk hidup sendiri.

Warga Desa Mahang, Sungai Hanyar RT 03 Kecamatan Pandawan ini, sudah menjanda selama 30 tahun.

Kini, ia sudah renta dan masih harus berjuang untuk hidupnya sendiri. Tinggal di rumah seorang diri berukuran 4x6 meter, ia setiap tahun harus mengganti atap rumahnya.

Maklum, atap rumahnya hanya terbuat dari daun rumbia. Sebenarnya atap rumbia bertahan selama lima tahun. Namun, sering kali atap miliknya bocor sehingga harus disisipkan setiap tahun. Satu unit rumahnya memerlukan 600 keping anyaman rumbia.

Jika bocor, terpaksa ia harus membeli anyaman rumbia. Satu keping serharga Rp 2 ribu. Namun, ia membeli jika ada uang. Sering kali, Sarniah harus menganyam sendiri atap rumbia.

"Daunnya milik orang lain. Jadi saya harus menganyam bagi hasil. Seumpama dapat 100, ya 50 keping punya saya dan bisa saya pasang di rumah saya. Kalau sisipan tidak sampai 600, saya mengganti hanya daun yang kering dan bocor," bebernya.

Baca: Setelah Via Vallen, Jerinx SID Serang Anang Hermansyah, Ashanty Marah-Marah di Instagram

Baca: Pernikahan Ahok (BTP) dan Puput Nastiti Devi Bakal Kandas karena Sifat, Ini Penerawangan Mbak You

Baca: Ayu Ting Ting Ungkap Sebut Saphira Indah saat Meninggal Dunia Calon Bayinya Terpaksa Digugurkan

Sarniah tinggal di rumah reot
Sarniah tinggal di rumah reot (Banjarmasinpost.co.id/Eka Pertiwi)

Belum lagi lantai dan dinding rumahnya yang sudah lapuk dan dimakan rayap. Di rumahnya juga tak ada alat elektronik. Sarniah juga tak memiliki jaringan listrik pribadi. Ia menyambung listrik dari tetangganya. Itu pun hanya untuk menyalakan lampu rumahnya.

Selain persoalan rumah yang sudah lapuk di makan usia, Sarniah juga harus bekerja untuk menghidupi kebutuhannya sehari-hari. Sarniah selama ini kerja serabutan. Jika musim taman ia akan menjadi buruh tanam. Begitu juga saat musim panen tiba. Dari sana ia bergantung diri untuk hidup dan makan.

Sarniah diketahui memiliki dua orang anak. Namun, anaknya sudah berkeluarga. Ia juga sungkan merepotkan sang anak. Terlebih dua anaknya juga sama sepertinya hanya buruh tani.

"Ya kalau makan seadanya. Rumah juga sudah lama, jalan sedikit bisa terperosok. Maklum saja usia rumah sudah 40 tahun dan belum pernah direhab," katanya.

Sayang, meski miskin ia juga tak mendapatkan bantuan lainnya. Baik berupa bantuan pangan non tunai atau raskin.

"Tidak pernah nenek Sarniah dapat bantuan. Kasihan dia sudah tua. Pekerjaan serabutan. Dulu kami pernah protes ada warga yang dapat padahal masih sehat. Masih mampu. Eh malah jadi pertengkaran. Kami malas ribut. Nenek Sarniah ini sudah tua memang harusnya dapat bantuan," katanya. (BanjarmasinPost.co.id/wie)

Penulis: Eka Pertiwi
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved