Berita Kabupaten Banjar

Balita Jeune Sundrom Asal Kabupaten Banjar Tak Kunjung Keluar dari RSCM, Sehari 10 Kali BAB

Balita malang penderita jeune syndrom (rongga dada sempit), Muhamamd Alfatih (13 bulan), hingga kini tak kunjung keluar dari Rumah Sakit

Balita Jeune Sundrom Asal Kabupaten Banjar Tak Kunjung Keluar dari RSCM, Sehari 10 Kali BAB
Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar untuk Banjarmasinpost.co.id
Alfatih bersang sang ibu di ruag perawatan RSCM, Jakarta, beberapa waktu lalu. Kondisi balita ini membutuhkan empati dan uluran tangan dari berbagai pihak untuk membantu biaya perawatannya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Balita malang penderita jeune syndrom (rongga dada sempit), Muhamamd Alfatih (13 bulan), hingga kini tak kunjung keluar dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusomo (RSCM) Jakarta.

Ini lantaran bayi kelahiran 11 Desember 2017 ini masih terserang diare.

"Jadi hingga sekarang Alfatih masih berada di RSCM karena masih belum sembuh dari diarenya," ucap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjar Ikwansyah, Senin (04/02/2019).

Pejabat eselon II di Bumi Barakat ini menuturkan berdasar penuturan ibunda Alfatih, dalam sehari Alfatih bisa sampai sepuluh kali diare buang air besar (BAB).

Baca: Reaksi Ruben Onsu Ketahui Adik Julia Perez, Della Perez Dipanggil Terkait Kasus Vanessa Angel

Baca: Kumpulan Ucapan Selamat Hari Raya Tahun Baru Imlek Dalam Bahasa Inggris : Happy Lunar New Year 2019

Baca: Ucapan Selamat Imlek 2019 Dalam Bahasa Inggris dan Artinya, Kata-Kata Mutiara Tahun Baru China 2570

Karena itu, saat ini balita yang berasal dari Mataraman, Kabupaten Banjar ini, masih menjalani perawatan.

Seperti telah diwartakan beberapa waktu lalu, Alfatih seyogyanya mulai menjalani rawat jalan di kantor perwakilan Pemkab Banjar di Tebet Darat Dalamraya, Jakarta, pada pekan pertama Januari lalu.

Namun urung karena saat itu mendadak kesehatan bayi itu drop akibat diare.

Selain itu, kala itu, pihak manajemen RSCM juga masih melakukan pelatihan khusus terhadap orangtua Alfatih mengenai tindakan P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan).

Lalu, menunggu persetujuan dari Poliklinik Kencana untuk rawat jalan Alfatih. Hal ini mengingat kelak balita malang ini memerlukan ruangan khusus dan pelayanan cepat.

Alfatih telah menjalani penanganan medis secara intensif di RSCM sejak 20 Mei 2018 lalu.

Menjelang persiapan menjalani fase rawat jalan, ujicoba penggunaan ventilator (alat bantu pernapasan) juga telah dilakukan beberapa waktu lalu dan berlangsung lancar.

Belum diketahui berapa lama Alfatih kelak Alfatih bakal menjalani rawat jalan. Namun dimungkinkan masih cukup lama karena penyakit yang diidap adalah penyakit langka yang memerlukan penanganan khusus.

Selama itu pula Pemkab Banjar membantu biaya hidup orangtua Alfatih di Jakarta. Dinkes Banjar beberapa bulan lalu juga menginisiasi penggalangan dana kemanusiaan untuk pembelian ventilator seharga Rp 200-an juta. Langkah ini dilakukan karena aturan pengelolaan keuangan tak memungkinkan untuk menyalirkan dana hibah dalam jumlah besar.

Setelah dana kemanusiaan untuk pembelian ventilator tersebut cukup, Dinkes Banjar kini akan kembali melakukan penggalangan dana kemanusiaan kepada kalangan pihak ketiga (pengusaha, donatur). Pasalnya, selama nanti Alfatih menjalani rawat jalan, lumayan banyak biaya yang harus disiapkan tiap bulan yakni Rp 25 juta lebih untuk biaya bahan alat habis pakai (BAHP).

Bagaimana dengan upaya penyiapan dana untuk rawat jalan tersebut? "Saat ini kami masih sedang mengupayakannya," tandas Ikwansyah.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved