Berita Kabupaten Banjar
Pada Momen-momen ini Pedagang Kambang Barenteng Martapura Panen Rupiah
Dalam budaya masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), setidaknya ada dua jenis kembang rangkaian yang mashur yaitu Kambang Barenteng
Penulis: BL Roynalendra N | Editor: Eka Dinayanti
BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Martapura memang identik dengan kambang (kembang).
Terutama kembang petik curah maupun kembang petik rangkaian.
Dalam budaya masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), setidaknya ada dua jenis kembang rangkaian yang mashur yaitu Kambang Barenteng dan Kambang Sarai.
Masing-masing menebarkan kekhasan keharuman aroma yang melegakan jiwa.
Rangkaian kembang itu antara lain mudah dijumpai di Pasar Kayutangi, Martapura.
Dalam etnis Banjar Kambang Barenteng terdiri atas berbagai macam jenis bunga yang dirangkai menjadi rentengan bunga.
Baca: 4 Tipe Ponsel Android Ini Wajib Dihindari saat Membeli Hp Baru, Salah Beli Bisa Menangis!
Baca: Kaya Selalu Tampil Mewah, Ternyata Irwan Mussry Rayakan Ultah Istri Tercinta Maia Estianty Sederhana
Baca: Setelah Vanessa Angel & Della Perez, Polda Jatim Siap-siap Panggil 8 Saksi Terkait Prostitusi Online
Baca: Ayu Ting Ting Kepincut Pria Bule Dibahas Luna Maya, Iis Dahlia dan Ayu Dewi Gara-gara Ini
Pengikatnya umumnya daun kelapa, gadang pisang, dan bisa juga menggunakan tali sintetis sejenis raffa.
Tiap ikatan rangkaian terdiri atas sepuluh rentengan bunga.
Harga jualnya cukup bersahabat dengan kantong, biasanya sekitar Rp 5.000.
Kalangan pedagang rata-rata menjajakannya di tepi-tepi jalan protokol, selain di lingkungan pasar tradisional.
Aktivitas itu telah cukup lama mereka lakoni, ada yang sejak belasan hingga puluhan tahun silam.
Norziah misalnya, salah satu pedagang Kambang Barenteng di pasar Martapura mengaku sudah berjualan rangkaian kambang tersebut sejak tahun 2000.
Ia menuturkan Kambang Barenteng memiliki ciri khas tersendiri. Model atau bentuk untaiannya tak berubah sejak dulu.
"Paling yang berbeda hanya susunan kambang-nya saja," ucapnya Rabu (06/02/2019).
Dalam satu renteng, beber perempuan setengah baya ini, terdiri dari atas bunga melati, mawar, kenanga, kembang kertas, kaca piring, kembang kuning dan bunga lainnya.
Aneka ragam kembang yang dirangkai tergantung musim.
Tapi, lanjutnya, Kambang Barenteng seakan wajib memiliki untaian bunga melati, mawar, dan kenanga yang harus ada.
Ketiga jenis bunga inilah penciri khususnya.
Pembuatan Kambang Barenteng umumnya dilakukan di rumah para pengrajinnya.
Tapi Norziah selain merangkai di rumah, juga melakukannya di sela berjualan sembari menunggu pembeli.
Para pedagang Kambang Barenteng sejak pukul 07.00 Wita telah beraktivitas merangkai bunga.
Selain Kambang Barenteng, umumnya mereka juga membuat Kambang Sarai.
Kegunaan Kambang Barenteng sama seperti bunga yang dijual pada umumnya yaitu untuk keperluan ritual.
Seperti digunakan warga saat ada kematian, acara keagamaan, pernikahan dan untuk menyambut tamu-tamu penting.
Bunga yang dijual di Kota Martapura pasokannya berasal dari beberapa desa sentra bunga yakni Desa Labuantabu, Jingah Habangilir, Jingah Habangulu, Pandakdaun, dan Bincau.
Pedagang Kambang Barentang sebagian besar memiliki kebun bunga sendiri sehingga lebih menguntungkan dibanding yang tidak memiliki kebun.
Harga yang ditawarkan tentu juga berbeda.
Ati, pedagang Kambang Barenteng yang misalnya dapat menjual lebih murah lantaran bahan kambangnya berasal dari kebun milik sendiri.
“Saya tinggal petik di kebun sendiri. Kalau pedagang lain sebagiannya harus bermodal dulu untuk beli bunganya," sebutnya.
Perempuan yang akrab disapa Acil Ati ini menjelaskan pada waktu tertentu para penjual Kambang Barenteng menuai keuntungan yang banyak.
Jumat biasanya lebih laku dibanding hari biasa.
Penjualan tiap hari biasanya mencapai 20-30 kupak (satu rangkaian Kambang Barenteng) serta 3-5 buah Kambang Sarai .
Ia menuturkan Kambang Barenteng bertali rafia umumnya banyak digunakan warga saat berziarah ke Sekumpul.
Lalu, yang menggunakan gadang pisang biasanya dibawa saat berzairah ke Datu Pelampaian
Kelebihan Kambang barenteng lebih tahan lama dibanding bunga curah atau yang tidak dirangkai (dibungkus plastik).
Bisa bertahan hingga tiga hari.
Kembang sisa atau yang tak terjual biasanya akan dijual lagi pada keesokan harinya, namun harganya lebih murah.
"Ketimbang layu dan membusuk, tentu lebih rugi. Jadi, tak mengapa dijual murah," sebutnya.
Selain Jumat, sebut Acil Ati, Kambang Barenteng juga laris manis saat momen hari-hari besar Islam.
Juga pada tahun baru China (Imlek).
Biasanya pada momen ini perajin kembang membikin rangkaian bunga hingga empat kali lipat.
Bagaimana dengan tahun baru? "Kalau momen awal tahun begini malah menurun pendapatan kami,” tandasnya.
(banjarmasinpost.co.id/roy)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/pedagang-kambang-barenteng-di-martapura.jpg)