Jendela

Tiga Kata Kiwari

Untuk itu, orang harus adaptif dan kreatif, menyesuaikan diri dengan perubahan sekaligus menciptakan perubahan-perubahan baru yang lebih baik

Tiga Kata Kiwari
Mujiburrahman 

Media sosial memang memberi peluang yang lebih besar bagi tiap orang untuk dihargai. Tidak seperti di era media konvensional, kini siapapun bisa unjuk tampang di media sosial. Peluang untuk tenar dan populer terbuka bagi siapa saja.

Tetapi pada sisi lain, peluang untuk dicaci maki ramai-ramai juga sangat besar sehingga tak sedikit orang terkena stres berat gara-gara perundungan (di-bully) di media sosial.

Masalah makin seru ketika media sosial itu dijadikan saluran untuk menebar berita bohong (hoax). Ada yang sengaja melakukannya untuk memenangkan pertarungan politik. Ada juga yang mencari uang melalui produksi berita bohong itu. Lama-lama, benar dan dusta menjadi samar. Sesuatu dianggap benar bukan karena ia nyata adanya, tetapi karena kebanyakan warganet memercayainya (post-truth).

Namun, dunia ini selalu memiliki dua sisi. Meskipun berita bohong bertebaran dan ujaran kebencian berhamburan, dunia digital juga menyediakan peluang yang sangat besar bagi manusia untuk menguji kebenaran suatu informasi. Orang dengan mudah membanding satu sumber dengan sumber-sumber lainnya. Orang juga bisa menemukan wacana-wacana tandingan terhadap wacana tertentu.

Karena itulah, kita perlu melihat sisi terang dari disrupsi era digital ini. Misalnya, menurut Rhenald Kasali disrupsi di dunia bisnis justru memberikan lima hal yang positif. Pertama, biaya yang lebih murah. Kedua, kualitasnya lebih baik. Ketiga, merangkul semua pihak, terutama yang selama ini terabaikan. Keempat, lebih gampang diakses. Kelima, membuat sesuatu lebih cerdas, akurat dan hemat waktu.

Alhasil, hoax, post-truth dan disruption, tidak perlu disesali, tetapi harus dihadapi. Untuk itu, orang harus adaptif dan kreatif, menyesuaikan diri dengan perubahan sekaligus menciptakan perubahan-perubahan baru yang lebih baik. Inilah amanah, tugas kekhalifahan manusia. Seperti kata filosof Muhammad Iqbal, manusia yang paling dekat kepada Tuhan adalah manusia kreatif, karena Tuhan itu Maha Kreatif! *

Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved