Penutupan Jembatan Alalak

Reaksi DPRD Batola Atas Rencana Penetapan Tarif Feri, Tawarkan Dua Opsi Pengelolaan

Anggota DPRD Batola beraksi keras terhadap rencana penetapan tarif feri Rp 2 ribu per kendaraan roda dua di empat lokasi dermaga penyeberangan

Reaksi DPRD Batola Atas Rencana Penetapan Tarif Feri, Tawarkan Dua Opsi Pengelolaan
BPost Cetak
BPost cetak edisi Senin (18/2/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Anggota DPRD Batola beraksi keras terhadap rencana penetapan tarif feri Rp 2 ribu per kendaraan roda dua di empat lokasi dermaga penyeberangan, sebagai antisipasi kemacetan lalu lintas atas penutupan Jembatan Sungai Alalak, yang menghubungkan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Batola, pada 25 Februari 2019 nanti.

“Penetapan tarif Rp 2 ribu per kendaraan roda dua itu harus dibahas dulu. Jangan langsung diputuskan. Kalau pelajar dikenakan tarif Rp 2 ribu sekali menyeberang, kasihan mereka. Pelajar bolak-balik menyeberang dalam sehari dikalikan satu bulan, berapa biaya menyeberang yang dikeluarkan pelajar,” kata Wakil Ketua DPRD Batola, Anis Riduan, Minggu (17/2).

Menurut Anis, penetapan tarif Rp 2 ribu itu harus dikaji cepat karena pada 25 Februari ini jembatan Sungai Alalak sudah ditutup.

Baca: Pengakuan Warga Melihat Bocah Penunggu Sumur Tua di Kampung Batuah Banjarbaru

Baca: Alasan Iis Dahlia Menolak Brisia Jodie Pacari Anaknya, Devano Danendra Diungkap ke Billy Syahputra

Baca: Permintaan Maaf Tommy Tjokro Usai Prabowo Diserang Jokowi Urusan Pribadi, Debat Capres PIlpres 2019

Baca: Pengakuan Nia Ramadhani Soal Bajunya yang Paling Murah, Juga Hadiah Termahal dari Ardi Bakrie

“Dua opsi ditawarkan dewan. Pertama feri murni dikelola Pemda Batola. Kedua pengeloaan feri diserahkan ke pihak swasta dengan subsidi dari pemkab. Dua opsi ini tentu harus ada kontrol dan pengawasan, karena sifat dari feri ini darurat dan tidak boleh dibisniskan atau mencari untung,” ujarnya.

Pemda Batola, kata Anis, bisa memberikan subsidi BBM untuk pengelolaan feri, sehingga tarif penyeberangan bisa sangat murah dan tidak memberatkan masyarakat.

“Jadi jangan dijadikan kesempatan dalam kesempitan untuk mencari untung. Inikan kondisi darurat, nanti serbamacet, koq malah mencari untung,” ujarnya.

Anis tak ingin penetapan tarif feri ini akan menjadikan masalah baru.
“Jembatan Sungai Alalak ditutup dan menimbulkan kemacetan itu sudah merupakan masalah besar. Jadi jangan ditambah lagi dengan masalah baru dengan penetapan tarif feri,” ujarnya.

“Kalau tarif ini tetap diberlakukan, harus ada subsidi tarif dari Pemkab Batola, sehingga pelajar atau siswa berseragam ada dispensasi,” tambahnya.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Batola, Syamsul Arifin, mengatakan rencana pemberlakuan tarif Rp 2.000 per satu kendaraan roda dua itu masih belum final dan masih terus dibahas.

“Kami mengusahakan tarif yang serendah mungkin. Kami juga mengharapkan ada pemasukan bagi Pemko Batola, karena feri dan dermaga penyeberangan itu akan berlangsung dalam dua tahun ke depan,” ujar Samsul.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved