Advetorial Adaro

Bertemu Si Pemalu di Kolong Jembatan Barito

Bicara destinasi wisata, Kalimantan Selatan sudah kadung identik dengan pasar terapung.

Bertemu Si Pemalu di Kolong Jembatan Barito
Dok PT Adaro untuk BPost Group
Penampakan Jembatan Barito berlatar belakang Pulau Bakut 

Setelah sejenak menyantap soto ayam di dekat Jembatan Barito, kami segera menuju dermaga penyeberangan yang berada tepat di bawah jembatan.

Dari dermaga, Pulau Bakut yang hijau itu tampak sedap dipandang. Segar, sungguh kontras dengan cokelatnya kapal pengeruk pasir dan kapal tongkang yang berlalu-lalang.

Jarak dari dermaga ke Pulau Bakut tak begitu jauh, hanya selemparan batu, atau sekitar 150 meter saja.

Pulau Bakut adalah sebuah delta seluas 15 hektare yang menyembul di tengah Sungai Barito.

Dinamai Pulau Bakut karena konon ada hulu banyak orang yang mencarikan bakut (betutu) di sini.

“Mana rombongan yang lain?” tanya paman pengemudi kelotok sembari menyiapkan perahunya untuk kami naiki.

“Masih di belakang, Pak. Kami duluan,” jawab saya.

Ia bercerita, sejak dibuka untuk umum akhir tahun lalu, Pulau Bakut tak pernah sepi dikunjungi, apalagi pada akhirpekan.

Menurutnya, para pengunjung yang memakai jasa kelotoknya tak hanya datang dari sekitar Banjarmasin, tapi juga dari daerah lain di Kalimantan Selatan, bahkan Kalimantan Tengah.

“Alhamdulillah, berkah jugabagi kami,” katanya.

Halaman
1234
Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Rendy Nicko
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved