Breaking News:

Berita Banjarmasin

Saat Kecil Dengar Kakek Baca Buku Buya Hamka, Sekarang Nurul Jadi Penulis Handal

Mengenal bahan bacaan sejak usia balita, akhirnya saat SD kegemarannya membaca memotivasinya untuk jadi penulis.

Banjarmasinpost.co.id/salmah
Nurul Asmayani bersama anak-anaknya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Mengenal bahan bacaan sejak usia balita, akhirnya saat SD kegemarannya membaca memotivasinya untuk jadi penulis. Setelah dewasa puluhan buku ia hasilkan. Buku-bukunya tak hanya beredar di tanah air tapi juga hingga ke negera tetangga.

Nurul masih ingat, tatkala kecil sering dipangku kakeknya. Sambil memangku, sang kakek membaca buku. Tidak membaca di dalam hati, tapi beliau membacanya dengan suara yang jelas terdengar Nurul.

"Begitulah kebiasaan kakek. Sambil membaca dengan suara, mungkin supaya saya mengetahui apa yang beliau baca, walaupun saya waktu itu tidak begitu paham, apalagi saat itu belum sekolah, belum tahu baca tulis," kenang wanita kelahiran Kutai Timur, 27 Juni 1976 ini.

Buku yang disenangi kakeknya adalah karya Buya Hamka, termasuk novel-novel, di antaranya berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Kakeknya adalah seorang guru agama dan neneknya adalah guru sekolah dasar. Mereka memang suka membaca dan punya perpustakaan pribadi di rumah.

Baca: BREAKING NEWS - Niat Belanja ke Pelaihari, Mahasiswi yang Lagi KKN Ini Tewas di Jalan

Baca: Begini Nasib Tiga Pemain yang Tak Diizinkan Klub Bela Timnas U-22 Indonesia, Egy Maulana Vikri?

Baca: Bocah di HSU Bikin Surat Cinta Ingin Stop Sekolah, Tak Tega Sama Ibunya, Ini Kondisinya Saat Ini

Ayah Nurul juga demikian. Sang ayah yang pegawai kehutanan memang jarang di rumah, beliau suka juga membaca. Sedangkan ibunya walaupun tidak sekolah tinggi namun orangnya hobi membaca dan apa saja menjadi bahan bacaan.

"Ibu kalau melihat bahan bacaan langsung tertarik. Meskipun secarik kertas koran bekas bungkusan, beliau ambil dan baca dengan suara dikeraskan," ungkap Nurul yang tinggal di Banjarbaru.

Nurul kecil pun terobsesi ingin bisa membaca karena pikirnya pastilah akan banyak pengetahuan didapat. Sebab sang kakek dan orangtua banyak tahu berbagai hal.

Setelah duduk di sekolah dasar, Nurul jadi rajin membaca. Saat kelas IV ia pun termotivasi ingin jadi penulis. Walaupun ia tak paham bagaimana caranya dan apakah menulis di koran atau menulis buku.

Penasaran dengan buku koleksi kakeknya, Nurul tak kesampaian untuk meminjam karena sang kakek melarang cucu-cucunya mengambil buku-buku koleksinya, kecuali buku agama.

Halaman
123
Penulis: Salmah
Editor: Didik Triomarsidi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved