Opini Publik

Niat Baik Menuai Kritik (Menyoroti Deklarasi Geopark Meratus)

Padam 24 Februari 2019 bertempat di Kiram Park Kabupaten Banjar, Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor mendeklerasikan Geopark Meratus.

Niat Baik Menuai Kritik (Menyoroti Deklarasi Geopark Meratus)
Humas Pemprov Kalsel
Acara pendeklarasian Pegunungan Meratus menjadi Taman Bumi (Geopark) Nasional di Kiram Park, Kabupaten Banjar, Minggu (24/2/2019). Tampil dalam acara tersebut penyenyi ibu kota Slank dan Inka Christie. 

Menurut hemat saya, konsep atau rencana kerja implementasi Geopark Meratus tersebut dibawa ke meja pertukaran pikiran antara semua pemangku kepentingan Geopark Meratus, bukan hanya lembaga pemerintah saja. Kita tentu berharap Geopark Meratus berhasil baik dikelola dan mendapat dukungan dari semua pemangku kepentingan. Bukan berujung kegagalan dan anggaran yang digelontorkan menjadi sia-sia. Bukankah dibalik konsep pengelolaan ini dibutuhkan pula dana.

Falsafah hidup bangsa Indonesia mengajar bahwa segala sesuatu kita bawa ke meja musyawarah (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan). Musyawarah adalah cara beradab untuk memecahkan perbedaan pendapat yang disemangati oleh Nilai Persatuan, bukan ingin menang dan yang lain kalah.

Di atas dikatakan bahwa Geopark sebagai suatu kawasan. Di kawasan ini berisi aneka jenis unsur geologi yang memiliki makna dan fungsi sebagai warisan alam. Di kawasan ini dapat diimplementasikan berbagai strategi pengembangan wilayah secara berkelanjutan, yang promosinya harus didukung oleh program pemerintah. Sebagai kawasan, Geopark harus memiliki batas yang tegas dan nyata. Luas permukaan Geopark-pun harus cukup, dalam artian dapat mendukung penerapan kegiatan rencana aksi pengembangannya. Demikian menurut UNESCO.

Geopark sebagai kawasan lindung warisan bumi Geopark sebagai sarana pengenalan warisan bumi, maka Geopark mengandung sejumlah situs geologi (geosite) yang memiliki makna dari sisi ilmu pengetahuan, kelangkaan, keindahan (estetika), dan pendidikan. Kegiatan di dalam Geopark tidak terbatas pada aspek geologi saja, tetapi juga aspek lain seperti arkeologi, ekologi, sejarah, dan budaya.

Geopark sebagai kawasan lindung warisan Bumi bermakna Geopark adalah bagian dari warisan Bumi. Berdasarkan arti, fungsi dan peluang pemanfaatannya keberadaan dan kelestarian situs-situs itu perlu dijaga dan dilindungi.

Geopark sebagai tempat pengembangan geowisata bermakna bahwa objek-objek warisan Bumi di dalam Geopark berpeluang menciptakan nilai ekonomi.

Pengembangan ekonomi lokal melalui kegiatan pariwisata berbasis alam (geologi) atau geowisata merupakan salah satu pilihan. Penyelenggaraan kegiatan pariwisata Geopark secara berkelanjutan dimaknai sebagai kegiatan dan upaya penyeimbangan antara pembangunan ekonomi dengan usaha konservasi. Dan dalam hal Geopark sebagai geowisata maka peluang penduduk setempat untuk menjadi pemandu wisata terbuka. Untuk itu sebelumnya mereka dilatih dan ditatar untuk menjadi pemandu wisata di kawasannya.

Geopark sebagai sarana kerjasama yang efektif dan efisien dengan masyarakat lokal mengandung makna bahwa pengembangan Geopark di suatu daerah akan berdampak langsung kepada manusia yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan. Konsep Geopark memperbolehkan masyarakat untuk tetap tinggal di dalam kawasan, yaitu dalam rangka menghubungkan kembali nilai-nilai warisan bumi kepada mereka. Masyarakat dapat berpartisipasi aktif di dalam revitalisasi kawasan secara keseluruhan.

Geopark sebagai tempat implementasi aneka ilmu pengetahuan dan teknologi bermakna bahwa di dalam kegiatan melindungi objek-objek warisan alam dari kerusakan atau penurunan mutu lingkungan, kawasan Geopark menjadi tempat uji coba metode perlindungan yang diberlakukan. Selain itu, kawasan Geopark juga terbuka sepenuhnya untuk berbagai kegiatan kajian dan penelitian aneka ilmu pengetahuan dan teknologi tepat-guna.

Geopark Meratus jika dikelola dan dipromosikan dengan baik maka akan menjadi perhatian dunia. Prinsip konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyakat merupakan konsep pengembangan pariwisata alam yang menjadi perhatian dunia.

Dari beberapa aspek Geopark tersebut maka keterlibatan Universitas Lambung Mangkurat dan Perguruan Tinggi yang terkait dengan beberapa disiplin keilmuan sangat dibutuhkan guna menyukseskan Geopark Meratus. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved