Berita Banjarmasin

In Memoriam Harry Prihanto Mantan Wapemred BPost, Pilih Naik Tangga Ketimbang Pakai Lift

BANYAK kisah dan pelajaran penting dari Harry Prihanto, yang pada Jumat (1/3) pukul 03.30 Wita, telah mengembuskan napas terakhirnya.

In Memoriam Harry Prihanto Mantan Wapemred BPost, Pilih Naik Tangga Ketimbang Pakai Lift
dokumen banjarmasinpost.co.id
Selamat jalan sahabat, teman dan guru Almarhum Harry Prihanto. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - BANYAK kisah dan pelajaran penting dari Harry Prihanto, yang pada Jumat (1/3) pukul 03.30 Wita, telah mengembuskan napas terakhirnya. Pernah menjabat Wakil Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post Group, sosok ramah dan tak lelah berbagi ilmu ini telah dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Guntung Lua, Banjarbaru. Sebagian kisah laki-laki berusia 54 tahun ini dituturkan Wakil Manajer Produksi Banjarmasin Post Group, Agus Rumpoko.

Echo. Demikian Mas Harry Prihanto saat memanggil saya. Padahal nama panggilan saya adalah Eko. Panggilan itu rutin terdengar di ruang redaksi Banjarmasin Post, setiap kumandang azan Magrib dan Isya terdengar dari masjid Korem. Kami pun beranjak dari kursi dan turun ke lantai satu untuk kemudian menapaki jalan sejauh sekitar 50 meter menuju masjid.

Setelah selesai salat (Magrib dan Isya), kami pun kembali ke tempat kerja. Namun kami sepakat untuk tidak menggunakan lift dan memilih menapaki anak tangga dari lantai satu ke lantai empat.

Kesepakatan yang kami bikin beberapa tahun lalu itu merupakan kesimpulan diskusi kecil, tentang kebiasaan kami yang bisa disebut tidak pernah berolahraga. Maklum, setiap hari kami baru sampai rumah sekitar pukul dua dini hari, dan sudah ada di kantor lagi sekitar pukul 15.00. Bahkan, Mas Harry yang menjabat wapemred sejak 2010, seringkali harus sudah ada di ruangannya sekitar pukul 12.00 Wita.

Dua tahun terakhir, setiap kami menapaki anak tangga sengaja tidak memacu langkah. Karena saya tahu dia pernah terkena stroke dan sejak itu pula rutin meminum obat.

Serangan stroke itu terjadi saat Mas Harry bekerja mengedit berita. Ketika kami semua sedang 'khusyuk' mengedit berita, tiba-tiba dikejutkan suara benda jatuh dari ruang wapemred.

Saya dan Royan Naimi (Menajer Liputan/Menajer Digital) pun segera berlari menuju sumber suara dan terhenyak saat menyaksikan wajah Mas Harry terlihat berbeda. Namun saat kami minta segera pulang dan meninggalkan pekerjaan, Mas Harry menolak. Setelah kami paksa, dia pun luluh dan bersedia pulang dengan istri yang menjemputnya.

Kendati menjabat sebagai wapemred dan tidak memiliki kewajiban mengedit berita, Mas Harry tidak mau berpangku tangan. Baginya membikin berita atau mengedit berita adalah pekerjaan wartawan. Selebihnya, adalah pekerjaan yang terkait jabatan.

Selama sekitar 20 tahun saya bekerja bersamanya, hampir tidak pernah absen mengedit berita.

Tak hanya saya, semua rekan di redaksi BPost punya kesan mendalam terhadap Mas Harry. Di antaranya, Mas Mahmud Siregar yang nyaris bersamaan memulai karier di perusahaan ini.

Kisah kebersamaan itu seringkali diputar mereka berdua, di saat sebagian awak redaksi 'berselonjor' di pantry sambil menyeruput minuman hangat dan camilan ala kadarnya. Saya yang lebih yunior dan sejumlah kru redaksi lain yang baru beberapa tahun bergabung, tentu menyimak kisah kerja keras mereka.

Halaman
12
Penulis: Agus Rumpoko
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved