Ekonomi dan Bisnis

Berpotensi Alami Perlambatan Ekonomi, Kalsel Mulai Minimalisir Ketergantungan Batu Bara

Kebergantungan Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan pada sektor berbasis komoditas, terutama batu bara, CPO, karet dan kayulapis menjadi sorotan BI

Berpotensi Alami Perlambatan Ekonomi, Kalsel Mulai Minimalisir Ketergantungan Batu Bara
banjarmasinpost.co.id/mariana
Kepala KPw BI Kalsel, Herawanto. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN -Kebergantungan Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan pada sektor berbasis komoditas, terutama batu bara, CPO, karet dan kayulapis menjadi sorotan oleh Bank Indonesia (BI).

Kecemasan potensi perlambatan ekonomi di Kalimantan, lantaran harga komoditas batu bara turun. Pada Februari 2019 lalu, Harga Batu Bara Acuan (HBA) ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebesar 91,8 US dollar per ton. Harga itu turun 0,61 US dollar atau 0,66 persen dari HBA Januari 2019, yakni 92,41 US dollar per ton.

Terkait hal itu, Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kalsel, Herawanto menyebutkan, pihaknya mendukung penuh langkah-langkah dari Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota yang sudah mencanangkan secara bertahap memperkuat sumber-sumber perekonomian selain dari batu bara.

Baca: Saat Nyepi di Pura Agung Jagat Nata Banjarmasin, Gadget Pun Tidak Digunakan

Baca: Hasil Akhir PSIS Semarang vs Persipura Jayapura di Laga Grup C Piala Presiden 2019, Skor Akhir 1-3

Baca: Mau Membentuk Negara Islam dan Tolak Pemilu, Aliran di Palau Sebuku Ini Mulai Rambah Kotabaru

"Pergerakan ekonomi global meningkat maka kebutuhan batubara akan meningkat, ketika melandai maka kebutuhan batubara juga menurun. Hal ini yang sedang diupayakan oleh segenap pihak mendorong perkuat sumber perekonomian lainnya sebagai solusi ketergantungan dengan batubara," ujarnya kepada Banjarmasinpost.co.id.

Perekonomian Kalsel pada tahun 2018 tumbuh 5,13 persen masuk dalam kisaran proyeksi sebesar 5,1-5,5 persen, namun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2017 yang sebesar 5,28 persen.

Dari sisi pengeluaran, lerlambatan ekonomi negara mitra utama yakni China serta transmisi risiko negara berkembang lainnya, yaitu Turki, Argentina. Serta adanya perang dagang menjadi faktor penekan ekspor dan ekonomi secara keseluruhan.

"Harga komoditas utama Kalsel selain batubara berpeluang naik pada 2019-2020. Harga CPO, karet dan plywood pada 2019 menunjukan potensi peningkatan. Sedangkan harga batubara masih dalam tren menurun," imbuh Herawanto.

Harga minyak dunia akan sedikit naik pada 2019, lalu turun pada 2020. Potensi peningkatan harga minyak dunia pada 2019 sehubungan dengan negara OPEC melakukan pemangkasan produksinya.

Lebih lanjut, dikatakannya, perekonomian Indonesia berpeluang meningkat pada 2019 dengan proyeksi APBN sebesar 5,13 persen dan proyeksi Bank Indonesia pada kisaran 5,0-5,4 persen.

"Inflasi dalam tren menurun dan mengarah pada sasaran 3,5±1 persen pada 2019 dan 3,0±1 persen pada 2020. Upaya Pengendalian inflasi juga terus dilakukan oleh BI, Pemerintah dan berbagai stakeholders dalam rangka mencapai penurunan inflasi yang ditargetkan," pungkasnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved