Melihat Perjuangan Atlet Difabel Banua

Raih Dua Emas di Bukit Jalil, Malaysia, Yahya Jadi Andalan Timnas Sepakbola CP Indonesia

Bendera merah putih dan lagu Indonesia raya berkibar dan berkumandang di ASEAN Para Games 2017

Raih Dua Emas di Bukit Jalil, Malaysia, Yahya Jadi Andalan Timnas Sepakbola CP Indonesia
NPC Kalsel
Yahya sepakbola CP NPC Kalsel 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bendera merah putih dan lagu Indonesia raya berkibar dan berkumandang di ASEAN Para Games 2017 di Field C National Sports Council, Bukit Jalil, Malaysia akhir 2017 lalu.

Itu terjadi karena tim timnas sepak bola Celebral Palsy (CP) berhasil meraih medali emas diajang empat tahunan para penyandang difabel.

Sang kapten di timnas itu adalah Yahya Hernanda yang merupakan atlet binaan binaan National Paralympic Comitee (NPC) Kalimantan Selatan (Kalsel).

Tidak hanya sekali Yahya menyumbang emas bagi Indonesia. Di sebuah turnamen invitasi di Singapura pada Juli 2016 silam.

Baca: Keterbatasan Fisik dan Mental Tak Menghalangi Atlet Kalsel Ini Berprestasi dan Menginspirasi Dunia

Baca: KalselPedia - Ini RTH Berkonsep Kijang di Kota Pelaihari Kabupaten Tanahlaut

Dalam ajang tersebut Indonesia berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Thailand dan Singapura dalam sebuah turnamen berformat round-robin.

Yahya mengaku sudah terbiasa bermain sepakbola sejak masih kecil, meski memiliki kekurangan secara fisik.

“Boka sudah sejak kecil jadi hobi. Saya main sekitar dua sampai tiga kali seminggu,” ujarnya.

Tidak hanya sepakbola Yahya juga pernah berprestasi saat ikut di ajar Peparprov Tanjung ikut atletik khusus CP.

Yahya memulai karier sebagai pemain sepakbola CP saat ikut sejak 2012 Peparnas di Riau sebagai atlet futsal daksa.

Yahya yang mengalami cerebral palsy sejak lahir tidak putus asa dalam berkarier. Keterbatasan memilih dia untuk menjadi atlet sepakbola CP.

Berbeda dengan sepakbola pada umumnya di cabang sepak bola CP ini, satu tim beranggotakan 7 pemain dengan 4 tingkat Cerebral Palsy berbeda, dari tingkat yang paling ringan (C8) hingga yang terberat (C5).

Seorang pemain dengan fisik yang kelihatan tidak sempurna, misalnya, bisa berhadapan dengan seorang lawan yang secara fisik kelihatan normal walaupun sebenarnya juga memiliki keterbatasan tertentu.

(Banjarmasinpost.co.id/Khairil rahim)

Penulis: Khairil Rahim
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved