Mengenal Tradisi Baarak Naga Batola

Kepala Naga Pernah Mau Disimpan Pihak Meseum Lambung Mangkurat, Tapi Begini Akhirnya

Begitu mempelai pria sampai di rumah mempelai wanita, maka pasangan pengantin ini akan foto bersama di atas kepala naga

Tayang:
Penulis: Edi Nugroho | Editor: Didik Triomarsidi
Akbar Warga Ulu Benteng
BAARAK naga, tradisi mengarak pengantin di atas kepala naga di kawasan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Batola 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Begitu mempelai pria sampai di rumah mempelai wanita, maka pasangan pengantin ini akan foto bersama di atas kepala naga usai digelar tradisi mengarak pengantin di atas kepala naga di kawasan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Batola.

“Iya, pasangan pengantin pun akan foto bareng di atas badan dan kepala naga. Momen istimewa ini akan diabadikan oleh keluarga dan tukang foto. Sebagian generasi milineal akan memfoto dengan hape dan mempostingnya di media sosial,” kata Sarfin (60), warga Kelurahan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Batola, Senin (8/4/19).

Menurut Sarfin, untuk embuatan kepala naga perlu diiringi ritual tertentu.

Kayu untuk bahan kepala naga didapatkan dari kayu yang mengapung di titian jamban.

Baca: Muncul Sejak 100 Tahun Lalu di Marabahan Kabupaten Batola, Gara-gara Digangu Siluman Naga saat Mandi

Baca: Saking Kerasnya Digoyang Si Naga, Pengantin Pria Harus Diurut Dulu Sebelum Tempur Malam Pertama

Baca: Pengantin Pria Sampai Terjatuh saat Kepala Naga Digoyang, Warga Pun Tak Jarang Kesurupan

Bahkan menurut cerita sesepuh kampung yang mengukir kayu menjadi kepala naga terkesan hanya asal-asalan.

Sosok seperti ternyata sidah ada di benak sesepuh kampung tersebut.

Dijelaskanya, sesepuh kampung agar kepala naga disimpan dan dirawat.

Selain itu dilarang meminta bayaran untuk peminjaman kepala naga terutama saat tradisi bearak pengantin di Marabahan.

“Kepala naga saat ini dimiliki oleh Mastoni, penerus dari sesepuh Kampung Ulu Benteng dan sempat Museum Lambung Mangkurat memintanya untuk disimpan. Namun permintaan dari pihak museum ditolak karena warga masih memerlukan setiap ada pengantinan,” katanya.

(Banjarmasinpost.co.id/edi nugroho)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved