Breaking News:

Mereka Bicara

Mengajarkan Pendidikan Seksualitas pada Anak

Menyikapi contoh lontaran pertanyaan anak sebagaimana di atas, respons yang ditunjukkan sebagian orangtua adalah kaget

Mengajarkan Pendidikan Seksualitas pada Anak
net
Ilustrasi

Dra Psi Rivaizah Noor MPD, Ketua Yayasan Wagas Limpua Kota Banjarmasin (Widyaiswara Madya BBPPKS Regional IV Kalimantan)

BANJARMASINPOST.CO.ID - “BU, kenapa ya Tono teman saya kalo kencing berdiri, sedangkan Titi jongkok?”
“Bu, tadi pacar Anti mau cium pipi, Anti harus gimana, boleh engga ya?“

Menyikapi contoh lontaran pertanyaan anak sebagaimana di atas, respons yang ditunjukkan sebagian orangtua adalah kaget, bingung, tidak menyangka anaknya bisa menanyakan hal yang demikian, atau bisa juga marah, karena hal itu dianggap tabu, tidak baik, dan tidak sepantasnya dipikirkan serta ditanyakan oleh seorang anak, tugas anak hanya sekolah.

Sebenarnya anak saat itu hanya butuh penjelasan saja, namun terkadang reaksi yang dimunculkan orangtua terhadap anak, membuat anak jadi takut, tertutup untuk bertanya lagi. Apa yang dirasakan anak pada saat itu ?. Sedih, kecewa, dan takut. Akhirnya anak tidak berani lagi bercerita atau bertanya pada orangtuanya. Yang dikhawatirkan, anak akan mencari informasi untuk memuaskan keingin tahuannya di luar rumah, melalui teman, media cetak atau elektronik, tentu saja kebenaran informasinya akan sulit untuk dikontrol.

Seks dan Seksualitas
Sering kita mendengar kesalahan pahamanan orangtua atau orang dewasa dalam mempersepsikan istilah seks dan seksualitas. Ketika bicara tentang seksualitas yang terbayang pada saat itu adalah hubungan seksual antara laki- laki dan perempuan, padahal kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda, akibatnya orangtua menutup diri ketika anaknya butuh informasi dan penjelasan terkait seksualitas, karena dianggap tabu.

Seks adalah pembicaraan seputar alat kelamin termasuk di dalamnya hubungan intim antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan seksualitas tidak hanya sekedar bicara seputar alat kelamin, tetapi membicarakan totalitas ekspresi kita sebagai laki-laki atau perempuan, apa yang kita percayai, kita pikirkan, kita rasakan tentang diri kita, bagaimana kita bereaksi terhadap lingkungan, bagaimana kita menampilkan diri kita, bagaimana kita berbudaya dan bersosialisasi yang semuanya mencirikan identitas kita sebagai seorang individu (Hilman Al Madani, 2004)

Sebenarnya orangtua adalah orang pertama yang seyogyanya memberikan informasi terkait seksualitas pada anak, sebelum anak mendapatkan informasi yang beragam dari luar rumah, yang justru belum tentu kebenarannya. Bangunlah komunikasi yang baik, terbuka, dan nyaman antara orangtua dan anak, sehingga akan menjadi benteng yang kuat bagi anak untuk menghadapi informasi-informasi yang menyesatkan.

Ketika orangtua memberikan pengetahuan tentang seksualitas pada anak, sebenarnya orangtua sedang memberikan pemahaman pada anak tentang proses kehidupan, di mulai dari lahir, masa balita, pra sekolah, usia sekolah, pra remaja, remaja sampai dewasa. Anak juga diajarkan ciri-ciri kepribadiannya, identitas dan perannya sebagai laki-laki dan perempuan serta menjaga kesehatan reproduksinya.

Kapan Pendidikan
Seksualitas Diberikan ?
Orangtua atau orang dewasa sering menanyakan kapan waktu yang tepat dalam memberikan informasi terkait seksualitas pada anak. Bagi anak-anak yang membutuhkan informasi terkait seksualitas, anak akan bertanya, saat itu orangtua hendaknya menjelaskan. Ketika anak bertanya, berarti anak memiliki ketertarikan akan sesuatu pada dirinya atau mungkin pada teman sebayanya. Namun, bila anak tidak bertanya, ada dua penyebab; Pertama, anak belum tertarik. Kedua, ketika anak bertanya , orangtua memarahi atau meminta anak diam, karena tidak pantas / tidak boleh untuk ditanyakan. Saat anak bertanya sebenarnya merupakan kesempatan emas (golden opportunity) bagi orangtua untuk menjawabnya. Artinya anak membutuhkan informasi tersebut, dan anak siap untuk belajar.

Beberapa remaja mengatakan alasan mereka menonton film porno karena rasa penasaran, rasa ingin tahu. Hal ini dikuatkan dengan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa informasi tentang seksualitas 65 persen mereka dapat dari film porno, sedangkan informasi yang mereka dapat dari orangtua hanya 5 persen saja. Ini menunjukkan, bahwa orangtua masih sulit mengkomunikasikan atau membicarakan terkait seksualitas pada anaknya, sebab di kepala orangtua masih melekat pemahaman bahwa bicara tentang seksualitas itu jorok, tabu, memalukan.
Jadi, tidak ada patokan umur yang pasti kapan pendidikan seksualitas disampaikan pada anak, yang terpenting ketika anak bertanya orangtua hendaknya memberikan respon yang positif, bukan memarahi atau menyuruh diam.

Bagaimana Cara
menyampaikannya?
Kesulitan orangtua /orang dewasa dalam menjawab pertanyaan anak-anaknya terkait seksualitas, salah satunya dipengaruhi oleh budaya masyarakat kita, yang masih menganggap bahwa seksualitas adalah sesuatu yang tabu, jorok dan tidak perlu dibicarakan di dalam keluarga.

Yang perlu dipahami ketika menyampaikan informasi terkait seksualitas pada anak, adalah usia anak, topik disampaikan dengan bahasa yang bisa dipahami anak (sesuai usia anak), untuk topik tidak perlu disampaikan semuanya, tetapi bertahap, sesuai kebutuhan anak. Biasanya ekspresi yang ditunjukkan anak bila pertanyaannya sudah terjawab adalah anak akan diam sebentar, sambil manggut-manggut, atau menyelingi dengan kata “oo”.Terkadang ada anak yang mengulang-ngulang pertanyaan yang sama, orangtua jadi kesal dan mencap anaknya “cerewet” sebenarnya anak tersebut hanya ingin meyakinkan dirinya terhadap jawaban dari orangtuanya sehingga jawaban itu tersimpan di alam bawah sadarnya, dan menjadi nilai yang baik buat anak.

Memberikan pendidikan seksualitas pada anak sebenarnya bukan hanya tugas orangtua, tapi juga pihak sekolah, sebab semakin besar seorang anak, dia akan lebih banyak berada di luar rumah, salah satunya berada di sekolah.

Ada beberapa cara untuk menyampaikan pendidikan seksualitas pada anak adalah; (1) Mengenalkan anak dengan anatomi tubuhnya, bagaimana cara membersihkannya, bila anak masih belum bisa membersihkan sendiri, orangtua bisa menyampaikan siapa saja yang boleh membersihkannya, katakan juga pada anak bila orang tersebut berlama-lama memegang alat kelamin anak, padahal sudah bersih, anak bisa lari, menghindar. (2) Memperkenalkan anak pada ranah pribadi yang tidak boleh disentuh oleh sembarang orang, kecuali saat sakit diperiksa dokter, dengan didampingi orangtua. (3) Bangun pola komunikasi yang terbuka, nyaman dalam keluarga, apapun yang disampaikan oleh anak. (4) Seiring dengan pertambahan usia dan pemahaman anak, orangtua bisa menyampaikan siapa saja yang memiliki hubungan darah /mahram dengan anak dan yang bukan. Hal ini penting sebagai bekal terutama ketika anak sudah mulai tertarik dengan lawan jenis, dalam mengambil keputusan yang terbaik dan menghindari dari pergaulan bebas. (5) Jika orangtua mengalami kesulitan menyampaikan pendidikan seksualitas kepada anak, maka diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak yang dapat dipercaya, misal guru ketika anak di sekolah, para profesional di bidangnya (konselor, psikolog, dan pendidik seksualitas) untuk membantu memenuhi hak anak mendapatkan informasi seksualitas secara baik dan benar.

Dengan informasi pendidikan seksualitas yang benar, sehat dan lurus, diharapkan anak kita bisa membedakan mana perilaku yang benar dan mana perilaku yang salah, sehingga anak bisa menyikapi secara positif hal-hal menyimpang yang ada di lingkungannya. (*)

Editor: Didik Triomarsidi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved