Kriminalitas Banjarmasin

Mengejutkan! Januari 2019 Saja Polda Kalsel Sudah Sita 4.674, 45 Gram Sabu dan 3,099 Butir Ekstasi

Penangkapan terhadap pengedar dan kurir narkoba di Kalimantan Selatan terus dilakukan aparat berwenang seperti Direktorat Narkoba

Mengejutkan! Januari 2019 Saja Polda Kalsel Sudah Sita 4.674, 45 Gram Sabu dan 3,099 Butir Ekstasi
HO/Polres Tapin
Andi Jaya Saputra, pengedar sabu dan barang bukti 9 paket sabu yang diamankan jajaran Polsek Lokpaikat, Tapin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Penangkapan terhadap pengedar dan kurir narkoba di Kalimantan Selatan terus dilakukan aparat berwenang seperti Direktorat Narkoba (Ditnarkoba) Polda Kalsel dan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalsel.

Hasilnya pun cukup mengejutkan. Pada Januari 2019, Polda Kalsel berhasil menyita sabu sebanyak 4.674, 45 gram dan ekstasi atau ineks 3,099 butir.

Dengan terus dilakukannya penangkapan, para budak narkoba tidak dengan mudah mendapatkan barang haram itu. Setidaknya ini diakui seorang pengguna –sebut saja Aman– kepada BPost Group.

“Dikatakan susah ya susah, mudah juga bisa. Kalau sudah kenal sih mudah, tinggal ke tempat ....(menyebutkan satu tempat, Red). Bisa beli di situ,” ujarnya.

Baca: Live Streaming Liverpool vs FC Porto di Perempatfinal Liga Champion Siaran Langsung RCTI

Baca: Ivan Gunawan Pasrah Ditanya Jodoh, Tak Jadi Lamar Ayu Ting Ting yang Digosipkan dengan Shaheer?

Namun penjual tetap waspada. “Barang kadang tidak diserahkan langsung, namun ditaruh di suatu tempat misalnya di semak,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapan Yuni –sebut saja demikian– seorang ibu rumah yang pernah dipenjara karena sabu. Bagi pemakai pemula biasanya teman yang membelikan. Itu karena penjual tak mau berhubungan secara langsung.

“Tapi sebaiknya jangan pernah mencoba karena bisa kecanduan dan tidak ada faedahnya. Sesal baru ada jika tertangkap. Tidak hanya kita yang susah tetapi juga keluarga,” ucapnya.

Kabid Rehabilitasi BNNP Kalsel Dr Sandra mengatakan pengguna biasanya memerlukan dosis yang semakin tinggi untuk memperoleh efek yang diinginkan. Akibatnya pengguna bisa overdosis hingga mengancam jiwa. Jika sudah ketagihan akan sulit menghentikannya.

“Tetap ada dorongan yang sangat kuat untuk memakai zat kembali meskipun sudah lama tidak menggunakan karena ada pemicu,” ujarnya.

Pengguna narkoba juga terancam penyakit penyerta seperti gangguan jiwa, TBC, hepatitis dan HIV/AIDS.

Sandra mengatakan BNN punya metode rehabilitasi seperti rehabilitasi rawat jalan dan rawat inap. Metode rehabilitasi juga berbeda sesuai kondisi masing-masing. “Lama rehabilitasi biasanya tiga bulan. Masalahnya mereka yang direhab sering dropout. Jadi belum selesai rehabilitasi mereka sudah tidak datang lagi,” ujarnya.

Untuk itu perlu peran serta yang kuat dari keluarga. “Kerabat, tetangga, pengurus RT RW bisa melaporkan adanya orang di sekitar yang suka penyabu kepada BNNP Kalsel,” ujarnya. (banjarmasinpost.co.id/dwi/kur)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved