Mengenal Telaga Bidadari Kampung Dodol

Saat Musim Buah, Pengusaha Dodol di HSS Malah Kurangi Produksinya, Ternyata Bagini Alasannya

Usaha Dodol warga Desa Telaga Bidadari Kecamatan Sungai Raya dan Desa Kapuh Kecamatan Simpur, Hulu Sungai Selatan, meski tak pernah “mati”

Saat Musim Buah, Pengusaha Dodol di HSS Malah Kurangi Produksinya, Ternyata Bagini Alasannya
banjarmasinpost.co.id/hanani
Perajin dodol kandangan di Desa Telaga Bidadari, Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalsel, sangat memerlukan buah kelapa. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Usaha Dodol warga Desa Telaga Bidadari Kecamatan Sungai Raya dan Desa Kapuh Kecamatan Simpur, Hulu Sungai Selatan, meski tak pernah “mati” namun ada juga masa lesunya.

Kondisi itu hanya terjadi di musim buah lokal, dimana buah-buahan seperti rambutan, duku, durian, pampakin lagi banjir di pasaran.

Para pemilik usaha dodol mengaku terjadi penurunan order dari pelanggan sampai 50 persen.

“Saat musim buah, mau tidak mau kami menurunkan tingkat produksi. Misalnya yang sebelumnya 200 kilogram menjadi 100 kilogram,” kata Kusairi (30), pemilik dodol Harum Manis.

Baca: Terungkap Alasan Perajin di HSS Selalu Cantumkan Kata Asli Pada Produk Dodolnya

Baca: Tiap Hari 4 Jam Menghadapi Hawa Panas, Pekerja Bisnis Dodol di HSS Diupah Rp 50 Ribu Per Kuali

Baca: Ini Dia Pengusaha Dodol Ternama di HSS, Sampai-sampai Balihonya Bertebaran di Pinggir Jalan Raya

Proses pembuatan dodol kandangan di Desa Telaga Bidadari, Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalsel.
Proses pembuatan dodol kandangan di Desa Telaga Bidadari, Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalsel. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Selebihnya, kata Kusairi, terjadi penurunan keuntungan, pada saat musim kelapa di HSS produksinya menurun akibat siklus masa berbuah.

“Di Hulu Sungai Selatan, buah kelapa sangat penting, karena tak hanya untuk memenuhi kebutuhan usaha dodol. Tapi juga untuk usaha ketupat Kandangan yang sama-sama memerlukan kelapa tiap hari,”ungkap Hj Nurhayati.

Dia dan pemilik usaha dodol lainya, terpaksa membeli kelapa dari luar daerah, dimana Kapuas salah satu daerah pemasok kelapa.

Konsekwensinya, jelas dia biaya produksi jadi mahal, namun dodolnya harus dijual dengan harga yang sama.

“DI saat kebutuhan kelapa dipasok daerah lain, keuntungan yang kami peroleh pun berkurang. Tapi tetap harus berproduksi dengan untung tipis, karena sudah menjadi sumber mata pencaharian warga di kampung kami,” katanya.

HSS sendiri, sebenarnya penghasil buah kelapa. Di Kecamatan Sungai Raya dan Simpur, hampir semua rumah warga di pekarangan depan danbelakang rumah memiliki pohon kelapa.

Namun, tingginya kebutuhan akan kelapa, membuat perajin harus dipasok daerah lain.

(banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved