Berita Tanahbumbu

Menengok Usaha Pembuatan Kapal Pinisi di Pagar Ruyung, Bertahan di Tengah Kesulitan Kayu Ulin

Dari ruas jalan utama tidak terdengar suara bising, namun suara itu mulai jelas terdengar sekitar 50 meter saat akan memasuki lokasi pembuatan kapal.

Menengok Usaha Pembuatan Kapal Pinisi di Pagar Ruyung, Bertahan di Tengah Kesulitan Kayu Ulin
banjarmasinpost.co.id/helriansyah
Aktivitas pembuatan kapal pinisi di Desa Pagar Ruyung, Pagatan, Tanahbumbu 

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANAHBUMBU - TIDAK seperti di era tahun 1980-an, aktivitas pembuatan kapal pinisi di Kabupaten Tanahbumbu hampir tidak ada lagi. Hanya ada beberapa pembuat kapal pinisi yang mencoba bertahan di tengah kesulitan mendapatkan bahan baku utama yaitu kayu ulin.

Pembuat kapal pinisi yang masih bertahan itu ada di Desa Pagar Ruyung, Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Tanahbumbu. Tepatnya di sebuah gang sempit, persis berada di tempat pemakaman umum (TPU).

Berjarak lebih kurang satu kilometer, menuju arah sungai besar bernama sungai Pagatan, terdapat lokasi khusus pembuatan kapal pinisi. Dari ruas jalan utama tidak terdengar suara bising, namun suara itu mulai jelas terdengar sekitar 50 meter saat akan memasuki lokasi pembuatan kapal.

Suara bising itu makin jelas ketika menginjakan kaki di antara tumpukan kayu bekas serutan mesin katam dan kayu-kayu sisa potongan gergaji. Di lokasi galangan, yang berada di lahan cukup luas, terlihat belasan orang pekerja tampak sibuk. Masing-masing dari mereka melakukan kegiatan pembuatan kapal pinisi berukuran cukup besar, ukuran bobot 30 groostone (GT).

Kapal Pinisi - usaha pembuatan kapal pinisi tradisional di Desa Pagar Ruyung, Pagatan Tanahbumbu.
Kapal Pinisi - usaha pembuatan kapal pinisi tradisional di Desa Pagar Ruyung, Pagatan Tanahbumbu. (capture/banjarmasin post)

Di tengah kesibukan belasan pekerja, berdiri seorang lelaki parubaya. Lelaki yang mengenakan kopiah haji itu berdiri sambil menatap ke arah para pekerja. Dia adalah Mardini, akrab disebut Haji Mardini. Pemilik galangan sekaligus pemodal pembuat kapal layar tradisional khas asal Indonesia.

Baca: Hasil Real Count Pilpres 2019 jurdil2019.org : Suara Jokowi-Maruf 37,9%, Prabowo-Sandi 60,2%

Baca: Hasil Real Count KPU Pilpres 2019, pemilu2019.kpu.go.id, Jokowi-Maruf Turun, Prabowo Bergerak Naik

Mardini mengatakan galangan atau pembuatan kapal miliknya ini beroperasi sejak 1983 hingga sekarang. “Masih adanya pelanggan memesan dibuatkan kapal. Kalau dulu yang banyak pesan dari instansi pemerintah, Dinas Kelautan dan Perikanan. Bisa pesan sampai lima kapal,” kata Mardini, kemarin.

Walau tidak seramai di masa lampau, Mardini tetap bertahan di tengah kondisi yang serba menggunakan teknologi tinggi. “Sekarang pembuatan kapal banyak dari bahan fiber,” ujarnya.

Selain itu, usaha pembuatan kapal pinisi kian terpuruk karena sulitnya mendapat bahan baku seperti jenis kayu halaban dan ulin. “Kedua jenis katu itu sebagai bahan baku utama pembuatan kapal,” ujarnya.

Dalam berapa tahun terakhir, pembuatan terus mengalami hambatan. “Mulai tahun 1983 hingga 2000-an, galangan kami bisa menyelesaikan paling sedikit lima kapal dalam waktu tiga bulan. Kapal yang dibuat rata berukuran 22 meter, lebar 4,5 meter, dan draf (kedalaman) antara 1,25 meter,” ujarnya.

Para pekerja sedang bekerja membuat kapal Pinisi di Desa Pagar Ruyung, Pagatan, Tanahbumbu_1_wm
Para pekerja sedang bekerja membuat kapal Pinisi di Desa Pagar Ruyung, Pagatan, Tanahbumbu_1_wm (banjarmasinpost.co.id/helriansyah)

“Sekarang bahan baku sulit, menyelesaikan satu kapal saja bisa sampai lima bulan. Itu pun kadang sering bertukar material di satu kapal dengan kapal lainnya. Setelah bahan baku datang baru digantikan,” tambahnya.

Baca: Striker Cilik Banua Mampu Hadiahkan Lima Gol Dalam Satu Pertandingan, Bakat dari Sang Ayah

Baca: Pembunuh Mahasiswi di Kamar Hotel Ternyata Muncikari, Dihadiahi 6 Peluru, Ini Kronologi dan Alasan

Dampak turunannya, Mardini hanya memperkerjakan beberapa orang saja. “Dulunya galangan bisa memperkerjakan puluhan orang, kini hanya tersisa belasan orang,” ujarnya.

Pemesan kapal pinisi kebanyakan dari luar daerah, seperti Papua, dan Berau, Kalimantan Timur. “Biaya pembuatan kapal tergantung besarnya, satu kapal dengan bobot 30 GT rata-rata biayanya Rp 850 juta,” ujarnya. (banjarmasinpost.co.id/helriansyah)

Penulis: Herliansyah
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved