Berita Banjarmasin

Selamatka Bekantan dari Kepunahan, Tirulah Jepang Dalam Urusan Melindungi Satwa yang Langka

Nasib bekantan yang telah ditetapkan sebagai satwa maskot atau satwa identitas provinsi Kalimantan Selatan sejak tahun 1990 makin terancam kepunahan.

Selamatka Bekantan dari Kepunahan, Tirulah Jepang Dalam Urusan Melindungi Satwa yang Langka
istimewa
Anni Nurliani 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Anni Nurliani, saat ini Mahasiswa doktor di The United Graduate School of Veterinary Sciences (UGSVS), Gifu University, Jepang.

Berikut analisa dari dia yang juga seorang dosen prodi Biologi FMIPA ULM, tentang bagaimana menjaga satwa langka di negeri Jepang.

Nasib bekantan yang telah ditetapkan sebagai satwa maskot atau satwa identitas provinsi Kalimantan Selatan sejak tahun 1990 semakin terancam kepunahan.

Tidak hanya oleh hilangnya habitat asli tempat tinggal mereka karena ilegal logging, kebakaran hutan atau relokasi fungsi lahan menjadi perkebunan sawit, tapi juga oleh karena maraknya perdagangan ilegal dari hewan ini sebagai hewan peliharaan.

Akhir-akhir ini beberapa kasus pembantaian bekantan oleh warga turut membuat hewan yang juga menjadi maskot tempat wisata dufan (dunia fantasi) ini semakin menderita.

Kenyataan tentang semakin menyempitnya habitat asli bekantan dan berkurangnya sumber makanan mereka seperti Rambai laut (Sonneratia caseolaris), Kokosan monyet (Aglaia cucullata), Beringin (Ficus microcarpa), Piai (Acrostichum aureum), Waru (Hibiscus tiliaceus), Kirinyuh (Eupatorium odoratum), Bunga telang (Centrosema molle), Putri malu besar (Mimosa invisa), dan Buas-buas (Premna foetida) mengakibatkan hewan yang juga disebut monyet belanda ini keluar dari habitatnya untuk mencari makan.

Mereka mulai bergerak ke pemukiman warga terdekat. Kehadiran mereka di tengah-tengah warga membuat warga marah karena mereka menjadikan perkebunan milik warga sebagai sumber makanan baru mereka. Kemarahan warga tidak bisa dielakkan lagi, keberadaan mereka dianggap sebagai hama pengganggu yang kemudian berujung pada kematian hewan ini secara tragis.

Perjuangan bekantan untuk mencari makan di luar habitatnya ini adalah sangat berat. Kadang mereka harus mati karena tertabrak kendaraan yang tengah melaju, tersetrum listrik, atau menjadi buruan untuk dijadikan santapan warga. Hal ini kenyataan yang sungguh mengiris hati.

Sebenarnya secara hukum, hewan ini merupakan hewan yang dilindungi di bawah Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 pasal 21 ayat 2 yang menyatakan bahwa setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan hewan ini dalam keadaan hidup.

Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan pasal 21 ayat 2 tersebut dapat dipidana dengan ancaman kurungan paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. Namun, entah mengapa payung hukum ini seolah-olah tidak mampu melindungi hewan berhidung mancung ini dari ancaman-ancaman terhadap kepunahannya.

Halaman
123
Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved