Cerita Pegiat Tari Tradisional Banua

Sering Mau Dirasuki Makhluk Gaib, Penari Dayak Ini Membentengi Diri dengan Bacaan Alquran

Namun di balik keindahan dan kemolekan sejumlah penari, ternyata tidak sedikit yang memiliki pengalaman mistis saat membawakan tari tradisional.

Sering Mau Dirasuki Makhluk Gaib, Penari Dayak Ini Membentengi Diri dengan Bacaan Alquran
istimewa/poyanto
Poyanto alias Poyang sang penari tradisi Dayak saat berfoto dengan duta besar Finlandia. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Indonesia memiliki ragam budaya dan adat istiadat di masing-masing daerahnya, salah satunya dengan tarian.

Sarat dengan nilai-nilai luhur, sehingga keberadaan tarian pun dilestarikan turun temurun dari nenek moyang.

Namun di balik keindahan dan kemolekan sejumlah penari, ternyata tidak sedikit memiliki pengalaman mistis.

Poyanto salah satunya, lelaki yang lebih yang kerap membawakan tarian tradisi Dayak di Taman Siring Jalan Piere Tendean Kota Banjarmasin Kalsel itu pun cukup mempercayainya.

Terutama ketika sedang membawakan tarian tradisi Dayak, ia nyaris kerap kerasukan makhluk gaib. Namun Poyang, sapaannya, tidak begitu saja mengizinkan.

Baca: Sebelum Tampil, Ritual Ini Sering Dilakukan Para Penari Agar Tak Ada Gangguan Saat Menari

Baca: Penari Banua Ini Sempat Habiskan Waktu Empat Tahun, Demi Kuasai Tarian Baksa Kembang

Baca: Munawarah Kuasai 23 Tarian Tradisional Banjar dan Japin Kreasi, Belajar Sejak SMP

Melainkan ia lebih memilih memprisai diri dengan membaca ayat-ayat suci Alquran demi menghindari kesombongan terlebih kesyirikan.

"Kalau pengalaman mistis itu, pasti ada. Tergantung penari itu saja bagaimana menyikapinya. Karena mereka selalu ada di sekeliling kita dan ingin ikut menari terlebih ketika tarian tersebut merupakan tarian budaya," jelasnya.

Itulah yang sebetulnya menjadi alasan ibu dan neneknya pernah melarang Poyang melanjutkan menekuni tarian tradisi Dayak atau Mohing Asang.

Seorang lelaki berpakaian adat Dayak menari diiringi musik Mohing Asang di Siring Jalan Piere Tendean, Banjarmasin, Minggu.
Seorang lelaki berpakaian adat Dayak menari diiringi musik Mohing Asang di Siring Jalan Piere Tendean, Banjarmasin, Minggu. (amirul yusuf)

Meskipun demikian, dengan keteguhan hati dan selalu ingat kepada Allah SWT, kini Poyang berhasil meyakini orangtuanya untuk terus melestarikan tarian daerah.

" Maka dari itu, dulu saya pernah dilarang untuk menari. Tapi karena namanya memiliki garis keturunan yang bergelut di kesenian, akhirnya saya pun terus menari. Namun kita bisa memilih, mana menari yang baik dan tidak. Terutama jangan syirik, karena biasanya bila penari telah dirasuki makhluk gaib seperti itu, lambat laun akan tertanam rasa sombong di diri, " ujar penari yang pernah ke Finlandia itu.

(banjarmasinpost.co.id /Ahmad Rizki Abdul Gani)

Penulis: Ahmad Rizky Abdul Gani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved