Pemilu 2019

Dr Taufik Arbain Ungkap Catatan Politik Pemilu 2019 di Kalsel, Ini Kabar Baik & Buruknya

Inilah catatan politik dari pengamatan seorang Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Universitas Lambung Mangkurat (ULM)

Dr Taufik Arbain Ungkap Catatan Politik Pemilu 2019 di Kalsel, Ini Kabar Baik & Buruknya
istimewa/taufik arbain
Pengamat Politik Fisip ULM, Taufik Arbain 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Inilah catatan politik dari pengamatan seorang Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Dr Taufik Arbain, M.Si.

Menurut Taufik Arbain, Pemilu serentak Pilpres 2019 yang berbarengan dengan Pileg 2019 menyisakan banyak hal.

Namun demikian, akibat gegap gempita dan konsentrasi semua pihak pada proses dan pasca pencoblosan, sehingga terlupakan isu dan realitas yang berkembang berkaitan dengan pemilu legislative.

Catatan menarik pemilu Legislatif di Kalimantan Selatan cukup memberikan kabar baik, dan juga kabar buruk.

Pada kabar baik yang dapat dicermati Pertama; Peserta pemilu telah menjalankan tahapan dengan baik, seperti melakukan sosialisasi dan kampanye sebagaimana diatur dalam kepemiluan.

Baca: Gagal Bawa Sukseskan Calegnya, Tim Sukses Ini Depresi, Sang Adik Tak Mau Peduli Terus Menagih

Baca: 119 Petugas KPPS dan 15 Polisi Meninggal, Begini Data Lengkapnya dan Harapan Pemilu ke Depan

Kita sangat mengapresiasi mereka yang mencoba memenangkan hati rakyat siang dan malam tanpa lelah untuk menegaskan proses demokrasi dan pendidikan politik rakyat.

Setidaknya warga diajak tahu berkaitan dengan hak-haknya atas politik, kebijakan dan pembangunan. Kedua, proses pengetahuan politik yang telah dididik oleh para caleg sehingga mendorong mereka berpartisipasi hingga meningkat mencapai 80-90%, jauh dari pemilu sebelumnya dengan kondisi yang aman.

Ketiga, perolehan kursi masing-masing partai memungkinkan terdistribusi merata dengan system pembagian sainte lague 1,3,5,7, hanya saja relative merugikan jika suara partai besar dan mendekati sama antar partai, maka harga kursi pembagi pertama lebih mahal. ungkap pengamat politik dan kebijakan Publik Fisip ULM.

"Namun demikian ada kabar buruk yang menjadi kecemasan semua pihak. Pertama, ada pihak-pihak yang melakukan proses demokrasi dengan baik, sesuai tahapan dan prosedur tetapi harus terkalahkan oleh gerakan money politics yang massif militan dan terstruktur," katanya.

Baca: 193 Siswa SMPN 9 Banjarbaru Menumpang UNBK di SMKN 1 Banjarbaru, Sempat Grogi di Hari Pertama

Dalam pribahasa Banjar, “Panas satahun kalah dapat hujan sahari”. Kedua, adanya inovasi dan model baru yang massif dalam money politics, yakni pembusukan etika relasi partai politik, berupa tandem yang bersifat heterogen lintas partai.
Sesuatu yang boleh dibilang sangat jarang terjadi dalam pemilu di negara-negara demokrasi. Sebab ideologis partai mengharuskan memenangkan semua tingkatan parlemen dan homogen.

Halaman
12
Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved