Berita HST

Air Mandai Amalia Cs Bisa Nyalakan Lampu, Siswa MAN 1 Barabai Ikuti Lomba Teknologi 

Ternyata air fermentasi mandai, yang merupakan kulit cempedak, punya manfaat lain. Air makanan khas Kalimantan Selatan ini bisa menjadi sumber listrik

Air Mandai Amalia Cs Bisa Nyalakan Lampu, Siswa MAN 1 Barabai Ikuti Lomba Teknologi 
capture/BPost Edisi cetak
Karya Ilmiah siswa MAN1 Barabai, Air mandai menjadi sumber listrik dan mampu menyalakan bohlam. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Nasinya panas, ada sambalnya, plus mandai, nikmat sekali. Ternyata air fermentasi mandai, yang merupakan kulit cempedak, punya manfaat lain. Air makanan khas Kalimantan Selatan ini bisa menjadi sumber listrik

Hal ini sudah dibuktikan oleh tiga siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Di tangan Ajrina Amalia, Ajwa Ramadhana Alsya dan M Alif Sayyiddinoor, air mandai bisa membuat bohlam menyala.

Aksi mereka membuat dewan juri lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) HST, yang digelar pada 9 April 2019, terpesona. Bahkan juri menetapkan karya mereka sebagai juara pertama, sekaligus mengalahkan karya 11 peserta lainnya.

Tak hanya itu, ketiga siswa tersebut mewakili HST ke lomba TTG Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan yang digelar di Banjarbaru, Kamis (25/4/2019).

Amalia, yang merupakan ketua kelompo, mengaku mereka tidak pernah bermimpi bisa memenangi lomba. “Kami senang bisa menang dan mewakili kabupaten di tingkat provinsi,” ujar remaja berusia 16 tahun tersebut, kemarin.

Baca: Penjelasan Ustadz Abdul Somad Soal Hukum Ziarah Kubur Jelang Puasa Ramadan, Cek Doa Rasulullah

Sebenarnya, ungkap Amalia, karya ilmiah ini pernah dicoba oleh kakak kelas mereka pada 2018 tapi gagal.

“Belajar dari kegagalan kakak kelas, kami memodifikasi rangkaian air olahan mandai. Kami berhasil. Sebuah lampu bisa menyala,” ujar siswi kelas X jurusan IPA yang bercita-cita menjadi apoteker ini.

Mereka menggunakan seng dan aluminium sebagai kutub positif dan negatif. Sedangkan air mandai yang diperlukan sebanyak delapan gelas ukuran 100 mililiter. “Ternyata air mandai ini mampu menyalakan Light Emitting Diode (LED) dengan tegangan 1,5 volt,” ujar Amalia.

Dari keberhasilan ini, mereka mendapat pelajaran tiga mata pelajaran sekaligus, yakni fisika, kimia dan biologi. “Fisika bagaimana kami belajar mengantarkan listrik. Kimia, kami dapat mengetahui kandungan dalam air mandai. Sedangkan biologi, bagaimana caranya agar air limbah mandai tak langsung dibuang tapi dimanfaatkan agar tak mencemari lingkungan,” ujar Amalia.

Agar bermanfaat bagi banyak orang, rekannya, Ramadhana (15), mengatakan mereka akan melanjutkan penelitian ini. “Apalagi di sekolah kami ada ekstrakurikuler karya ilmiah,” ujar penggemar matematika ini.

Baca: News Analysis Ketua Jurusan Perbankan Syariah UIN Antasari : Perhatikan Reputasi

Demikian pula Alif, yang memang senang berkutat di laboratorium dan bercita-cita jadi laboran.
Berdasarkan keterangan dua guru pembimbing mereka, Tutik Sujiyati dan Siti Hadijah, kelompok Amalia melakukan percobaan pada Januari 2019.

Hasilnya mengejutkan. Air mandai sebanyak delapan cangkir yang masing-masing bervolume 100 mililiter bisa menghidupkan lampu 1,5 volt selama sepekan. Sedangkan dengan air mandai sebanyak 330 mililiter dalam botol bisa menghidupkan bohlam satu bulan.

Dalam lomba tingkat provinsi hari ini, Amalia dan rekan-rekan ingin menyalakan layar telepon seluler. “Dalam lomba, rencananya menggunakan lampu LED handphone dengan arus listrik tiga volt,” katanya. (wie)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved