Berita Tabalong

Seni Budaya Reog di Kabupaten Tabalong, Berat Reognya Hingga 60 Kilogram

Seni budaya reog saat ini menjadi hiburan yang mulai digandrungi oleh warga Kabupaten Tabalong.

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG - Seni budaya reog saat ini menjadi hiburan yang mulai digandrungi oleh warga Kabupaten Tabalong. Tak heran karena di Kabupaten Tabalong juga banyak terdapat warga suku jawa baik dari transmigrasi maupun dari merantau.

Seperti yang ada di Desa Kambitin Raya, Kesenian reog yang terdapat Komunitas Singo Tresno Joyo. Komunitas yang merupakan hasil dari bentukan remaja desa yang diprakarsai oleh Eko Sugianto dimana saat ini semakin berkembang dan dikenal secara lebih luas.

Pembentukan komunitas ini merupakan bukti dari kecintaan terhadap budaya jawa yang sudah mulai jarang diketahui oleh generasi muda. Awalnya komunitas ini dibentuk oleh lima orang secara sukarela pada tahun 2006 dan saat ini anggota sudah mencapai 35 orang penari dan 8 orang pemain alat musik.

Eko menambahkan Komunitas Aingo Tresno Joyo biasa diminta oleh pihak desa untuk memeriahkan berbagai acara seperti penyambutan tamu dari luar daerah. Warga yang melakukan hajatan biasanya juga menyewa mereka untuk memeriahkan acara dan saat ini tidak hanya di desa namun juga hingga ke luar desa.

Baca: Ini 3 Reaksi Ekstrem Fans Sambut Avengers : Endgame, Menangis Saat Nonton Hingga Mati Rasa

Baca: Ini Aturan Jam Kerja ASN Selama Bulan Ramadan 2019, Perhatikan Jam Masuk dan Pulangnya!

"Sedangkan untuk tarian kami selalu melakukan latihan rutin, khususnya untuk penari reog yang harus memiliki keahlian khusus dalam mengangkat reog," ujarnya.

Reog yang berbentuk kepala singa dan dihiasi bulu merak ini memiliki berat sekitar 60 kilogram yang diangkat dan bergantung pada kekuatan gigi dan leher. Perlu teknik khusus agar tidak terjadi cidera.

"Pemain harus memperhatikan luas lokasi yang digunakan untuk menari serta arah angin, jika angin cukup kencang tak bisa dipaksakan untuk tetap bermain," ujarnya.

Para pemain berlatih setiap dua minggu sekali, para pemain juga mengetahui bahwa resiko dalam memainkan reog sangatlah besar. Salah gerakan atau jika terjadi insiden bisa berakibat fatal. Terlebih banyak di daerah Jawa yang ada insiden hingga kehilangan nyawa.

Karena beban berat yang diangkat dan menggunakan kekuatan leher, dimana leher merupakan salah satu organ tubuh paling rawan berpusatnya segala saraf.

"Para pemain mengetahui resikonya, karenanya perlu ketelitian dan teknik untuk memainkan reog, tidak hanya asal dan ingin gaya saja," ujarnya.

Tarian reog terdiri dari lima macam dan yang paling ditunggu oleh penonton biasanya saat melakukan atraksi dengan adanya penari cilik yang duduk diatas kepala barong. Beban jelas berambah dan perlu keseimbangan agar penari tersebut tidak terjatuh.

"Saat banyak penonton yang bertepuk tangan merupakan kesenangan dan kebanggaan tersendiri, bahwa budaya jawa bisa diterima dengan baik oleh warga Kabupaten Tabalong yang penduduk aslinya merupakan suku banjar dan dayak," ujarnya.

Kesenian reog tidak dipungkiri memang mengandung hal mistis dan gaib, Eko sendiri untuk menjaga peralatannya juga memerlukan perlakuan khusus. Seperti dengan memberi makan dalam bentuk minyak wangi, dupa maupun bunga.

"Kadang jika tidak dilakukan ritual topeng topeng ini bisa gwrak sendiri," ujarnya.

Kesenian reog diharapkan bisa terua dijaga dan dilestarikan agar bisa dinikmati oleh generasi muda suku jawa di Kabupaten Tabalong. (Banjarmasinpost.co.id/Reni Kurniawati)

Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved