Inspirasi

Berawal Dari Anak Santri, Profesor Dr H Mujiburrahman MA Mampu Pimpin UIN Antasari

Perjalanan Profesor Dr H Mujiburrahman MA menuntut ilmu tidaklah mulus. Beragam kendala dan tatangan ia hadapi dengan penuh istiqamah.

Berawal Dari Anak Santri, Profesor Dr H Mujiburrahman MA Mampu Pimpin UIN Antasari
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Saat dilantik, banyak sekali ucapan selamat dari berbagai pihak. Tapi tak satupun dari keluarga dekat saya mengucapkannya, karena mereka tahu ini beban yang berat, akan banyak masalah dihadapi. Namun inilah jalan hidup yang mesti dilalui. Jangan lari dari tanggungjawab.

Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari (istimewa/mujiburrahman)

# Bisa diceritakan bagaimana perjalanan Anda sekolah yang berawal dari santri?

Alhamdulillah. Setamat Sekolah Dasar di Amuntai, pada 1984, saya nyantri di Pondok Pesantren Al Falah, Banjarbaru.

Normalnya, santri di sana menyelesaikan pendidikan selama 8 tahun, namun berkat prestasi saya, saya diperbolehkan lompat kelas alias jumping sehingga hanya dalam 5 tahun saya bisa lulus pada 1989.Tapi agar mendapat ijazah negeri, saya setahun lagi sekolah di Madrasah Aliyah Al-Istiqamah, Banjarmasin.

Setamat dari Al-Istiqamah, sebenarnya saya ingin kuliah di Yogya. Tapi karena saya pernah sakit paru-paru basah, orangatua menyarankan lebih baik di IAIN Antasari Banjarmasin saja.

Lulus S1 pada 1994, kemudian pada 1995 ada Tes Program Pembibitan Dosen, dan saya satu-satunya peserta dari IAIN Antasari yang lulus/diterima. Kemudian saya mengikuti pendidikan selama 9 bulan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk disekolahkan ke luar negeri, rencananya ke Timur Tengah. Setelah 9 bulan, saya terpilih untuk dikirim ke Arab Saudi. Tapi ada persyaratan lagi, yakni harus menghafal Al-Quran 8 juz. Untuk itu, saya dan beberapa teman kembali dipanggil ke Jakarta.

Namun, meski sudah hafal 8 juz, setelah itu tak kunjung ada kabar jadi tidaknya berangkat. Akhirnya, pada 1997 saya mendaftar tes S2 ke Kanada. Karena harus lancar bahasa Inggris, maka saya kursus di Bali selama 7 bulan. Pada 1998 saya berangkat ke Kanada. Saat itu sudah menikah dan isteri sedang hamil. Saya berangkat sendiri meninggalkan isteri demi menuntut ilmu.

# Apa saja suka duka belajar di negeri orang?

Pastinya selama 2 tahun di Kanada saya tak sempat mendampingi isteri melahirkan.

Selain itu faktor cuaca, bayangkan menuntut ilmu saat cuaca ekstrem. Karena Kanada itu dekat kutub utara, maka saat musim salju, suhunya di malam hari bisa mencapai -40 derajat celcius, lebih dingin dari kulkas. Kalau siang bisa -15 derajat.

Halaman
1234
Penulis: Salmah
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved