Berita Banjarbaru

Cerita Yadi si Penjaga Listrik di Daerah Terpencil, Pernah Didatangi Warga 'Paksa' Nyalakan Listrik

Kecamatan Pamukan Utara yang masuk kedalam Provinsi Kalimantan Selatan berada di ujung garis perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur.

Cerita Yadi si Penjaga Listrik di Daerah Terpencil, Pernah Didatangi Warga 'Paksa' Nyalakan Listrik
istimewa/yadi
Yadi, ‘Sang Penjaga Terang’ alias seorang Koordinator Unit Listrik Desa (ULD) Bakau 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Pernah anakku bertanya, “Apa pekerjaan Ayah?”, aku pun menjawab “Pekerjaan Ayah adalah Menjaga Terang”

Begitulah jawab Yadi, ‘Sang Penjaga Terang’ alias seorang Koordinator Unit Listrik Desa (ULD) Bakau yang pekerjaan sehari-harinya adalah menjaga keandalan Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang memiliki daya mampu sebesar 360 kilo Watt (kW) untuk pasokan listrik masyarakat di 13 Desa di Kecamatan Pamukan Utara, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan.

Secara Geografis, Kecamatan Pamukan Utara yang masuk kedalam Provinsi Kalimantan Selatan berada di ujung garis perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur.

Untuk berjumpa dengan ‘Sang Penjaga Terang’, dari Kota Banjarmasin setidaknya jarak yang harus ditempuh lebih dari 300 kilometer perjalanan darat, 240 km dapat ditempuh melintasi jalan aspal, dan selebihnya perjalanan harus melewati medan jalan berbatu dan lumpur di tengah hamparan luas hutan sawit.

Baca: Panduan Cara Mengirim Pesan WhatsApp Walau Tidak Simpan Nomor Kontak, Lewat Fitur Click to Chat

Baca: Hebat, Robot Kreasi Anak Muda Poliban Banjarmasin Pandai Menari dan Tendang Bola

Di tengah hamparan hutan sawit itulah ‘Sang Penjaga Terang’ mendedikasikan hari-harinya selama lebih dari 20 tahun untuk mengurus listrik masyarakat Desa di Kecamatan Pamukan Utara.

Mungkin bagi masyarakat desa di tempat itu Yadi pun sudah dianggap sebagai ‘Thomas Alva Edison’ atau ‘Nicola Tesla’ dikarenakan sudah piawai dan tahu ‘seluk-beluk’ dalam menangani setiap gangguan kelistrikan.

“Waktu awal saya di sini, pada 1994 hanya 1 Desa yang baru teraliri listrik, itu pun hanya beroperasi malam saja. Selebihnya di desa lain masih menggunakan lampu teplok. Saat ini tinggal dua desa lagi yang belum berlistrik PLN karena masih tahap perencanaan pembangunan," kenang Yadi.

Mungkin dibenak kita muncul pertanyaan “kenapa terang harus dijaga?” Bagi masyarakat di kota, dengan suplai listrik yang melimpah dan jaringan listrik yang andal tentu bukanlah suatu masalah karena malam hari pasokan listrik sudah pasti terjamin.

Tapi tidak bagi masyarakat di pedesaan, dikarenakan faktor alam dan kondisi geografis berbeda dengan perkotaan menyebabkan banyak sekali gangguan kelistrikan yang terjadi, seperti gangguan ranting pohon, hewan liar, pohon roboh dan lain sebagainya.

Baca: Sindiran Pedas Najwa Shihab ke Setya Novanto Usai Ketahuan Makan di Restoran, Skandal Ketua DPR!

Tidak ada beda antara malam maupun siang untuk layanan gangguan dan pelayanan pelanggan. Yadi menceritakan bahwa ia dan ‘Penjaga Terang’ lainnya selalu berusaha semaksimal mungkin memperbaiki gangguan jika terjadi padam akibat jaringan distribusi.

Halaman
12
Penulis: Sofyar Redhani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved