Berita Kabupaten Banjar

Hingga Mati Tak Dapat Hak, Karyawan Sebut PTP Danau Salak Tak Bayar Hak Pekerja Rp 31 Miliar

Namun sejak 2015 hak tersebut belum dibayarkan. Disebutkan Hery, ada lebih dari 200 orang yang belum menerima SHT

Hingga Mati Tak Dapat Hak, Karyawan Sebut PTP Danau Salak Tak Bayar Hak Pekerja Rp 31 Miliar
kontan
Ilustrasi: Rupiah 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional, ada keresahan di kalangan pekerja PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIII Danau Salak Kabupaten Banjar. Itu karena hak pensiunan karyawan belum dibayar manajemen.

Menurut mantan Ketua Serikat Pekerja Perkebunan PTPN XIII Danau Salak, Hery Mulyono, setelah menjalani masa bebas tugas selama enam bulan, pensiunan akan mendapat Santunan Hari Tua (SHT). Ini berdasarkan Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Namun sejak 2015 hak tersebut belum dibayarkan. Disebutkan Hery, ada lebih dari 200 orang yang belum menerima SHT. Ini belum termasuk karyawan yang mengundurkan diri. Nilainya sekitar Rp15 miliar. Ini belum termasuk dana pengosongan rumah sekitar Rp 2 miliar.

“Hak pekerja yang masih aktif berupa uang cuti serta rapel kenaikan gaji juga belum dibayar sejak 2016,” ujarnya.

Hery mengatakan mereka pernah mengadu ke DPRD Kabupaten Banjar, namun hingga kini tak terdengar ada tindaklanjut.

Baca: Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Hardiknas dalam Pusaran Sejarah

Baca: Jelang Bulan Puasa Ramadhan 2019, Tips Merawat Mukena Bali yang Trend agar Tidak Cepat Rusak

Baca: Curhat Janda Nassar, Muzdalifah Usai Marahi Feni Rose dan Tunjuk Kru TV Karena Tanya ke Fadel Islami

Dijelaskan Hery, para pensiunan yang sudah bekerja 25-30 tahun selama ini hanya mendapatkan uang Rp 300 ribu-Rp 400 ribu. Sementara SHT belum dibayar. Padahal itu merupakan harapan mereka untuk menyambung hidup. Bahkan ada yang sampai meninggal dunia tidak mendapakan hak tersebut.

“Harapan kami mudah-mudahan Gubernur H Sahbirin Noor dan anggota DPRD Provinsi Kalsel, maupun instansi berwenang bisa membantu,” katanya.

Salah satu pensiunan yang belum menerima haknya adalah Eko Sumarsono. Eko pensiun pada 1 April 2018. Namun dia masih tinggal di perumahan perusahaan karena istrinya masih bekerja di perusahaan.

Berdasarkan surat keputusan direksi, SHT-nya sekitar Rp 112 juta plus Rp 4 juta uang tunjangan pengosongan rumah Rp 4 juta. Namun hingga kini Eko tak menerimanya sedikitpun. “Kini mengandalkan hasil kebun karet dan gaji istri,” ujarnya.

Ketua Serikat Pekerja PTPN XIII Danau Salak Suharno, yang membawahi sekitar 800 karyawan, mengatakan pihaknya sudah beberapa kali menggelar rapat dengan kepala bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dan direksi perusahaan. Namun hak-hak tersebut belum juga dipenuhi.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved