Berita Internasional

Korea Utara Pangkas Jatah Makanan Warganya Jadi 300 Gram Per Orang, Terungkap Penyebabnya

Korea Utara ( Korut) dilaporkan melakukan pemangkasan terhadap jatah makanan rakyatnya setelah mengalami panen terburuk dalam 10 tahun terakhir.

Korea Utara Pangkas Jatah Makanan Warganya Jadi 300 Gram Per Orang, Terungkap Penyebabnya
AFP/KCNA VIA KNS
Dalam foto tanpa tanggal yang dirilis media Korea Utara KCNA pada 10 Juli, terlihat Kim Jong Un berdiri dan tertawa saat berkunjung ke ladang kentang di Samjiyon. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PYONGYANG - Korea Utara ( Korut) dilaporkan melakukan pemangkasan terhadap jatah makanan rakyatnya setelah mengalami panen terburuk dalam 10 tahun terakhir.

Diwartakan Sky News Sabtu (4/5/2019), negara yang tengah mengalami deraan sanksi internasional itu harus memotong jatah makan menjadi 300 gram per orang setiap hari.

PBB menyatakan sekitar 40 persen populasi atau sekitar 10,1 juta orang mengalami kekurangan makan kronis dan terancam tak punya persediaan hingga musim panen berikutnya.

Sebuah penyelidikan yang digelar oleh Program Pangan Dunia PBB (WFP) menunjukkan bahwa banyak keluarga hanya mengonsumsi protein beberapa kali setiap tahun.

Juru bicara WFP Herve Vershoosel mendeskripsikan situasi yang ada di Korut sangatlah serius dan memperingatkan negara itu bisa mengalami kelaparan dalam hitungan bulan atau tahun.

Baca: Syahrini Membayangkan Nikmatnya Berpuasa Bersama Reino Barack, Incess: Sayang Mau Makan Apa?!

Baca: Jadwal & Live Streaming Final New Zealand Open 2019 Minggu (5/5) Praveen/Melati, Jojo & Ahsan/Hendra

Baca: Penyebab Jalan Kalteng Mudah Rusak, Tonase Armada Angkutan Barang Ternyata Melebihi

Sky News memberitakan, tercatat Korut pernah mengalami kelaparan di pertengahan 1990-an di mana saat itu, setidaknya tiga juta orang dilaporkan tewas.

WFP melakukan penilaian ketahanan pangan berdasarkan permintaan Korut antara 29 Maret sampai 12 April dengan tim peneliti mengunjungi pertanian, kebun bibit di perkotaan dan pedesaan.

Kekeringan, gelombang panas, dan banjir dianggap sebagai biang krisis itu. Namun Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyebut Korut juga bertanggung jawab.

Seorang juru bicara AS menuturkan pemerintah Korut seharusnya bisa memenuhi kebutuhan warganya jika mengalirkan langsung dana negara ke sektor yang paling memerlukan perhatian.

"Namun nyatanya, rezim Korut terus mengeksploitasi, mengabaikan, dan membuat rakyatnya kelaparan dengan terus mengembangkan senjata nuklir dan program senjata," terang juru bicara itu.

Pada periode 2018-2019, negara komunis tersebut dilaporkan hanya mencatat hasil panen sebesar 4,9 juta ton. Berarti Korut kekurangan 1,36 juta ton.

Vershoosel mencatat prospek panen jelai serta gandum pada 2019 sangat mengkhawatirkan karena guncangan iklim, kekurangan bahan bakar, pupuk, hingga suku cadang bagi alat pertanian.

WFP dijadwalkan membuat penilaian lagi pada periode Juli sampai Agustus mendatang dengan Korut terus bergantung kepada bantuan pangan PBB selama bertahun-tahun.

Hai Guys! Berita ini ada juga di KOMPAS.com

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved