Mengenal Tradisi Bepalas Bidan di Batola

Begini Cara Merangkain Piduduk, Ingat Sabut Kelapa Harus Dikupas Dahulu Lalu Ditusuk Jarum

KEUNIKAN rangkaian bepalas bidan di Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Batola menarik untuk digali.

Begini Cara Merangkain Piduduk, Ingat Sabut Kelapa Harus Dikupas Dahulu Lalu Ditusuk Jarum
deskgram.net
Ilustrasi, tradisi belapas bidan seperti ini masih melekat kuat di Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Batola. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEUNIKAN rangkaian bepalas bidan di Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Batola menarik untuk digali.

Seperti peduduk, ayunan, dan perangkat tampung tawar.

Piduduk ini merupakan hadiah untuk sang bidan.

“Tuangkan beras kurang lebih 1 kg, letakkan kelapa tua di atasnya, jadilah perangkat piduduk,” ujar Mahmud,warga Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Batola lainnya, Rabu (8/5/19).

Menurut Mahmud, untuk sabut kelapa tua haruslah dikupas terlebih dahulu dengan menyisakan bagian atasnya.

Baca: Bayi Diberi Tampung Tawar Agar Tidak Mudah Diganggu Makhluk Jahat, Bagi Caranya

Baca: Tidak Boleh Melebihi 40 Hari, Tiap Bagian Piduduk Ternyata Punya Arti Pengharapan untuk Bayi

Baca: Usai Persalinan Bidan di Kabupaten Batola Diberikan Piduduk, Ternyata isinya Jarum, Benang & Uang

Pada sabut bagian atas tersebut, ditusukkan jarum yang telah dipasangi benang.

Nah, sekeliling kelapa diletakkan asam jawa, garam, laos, kunyit, dan bawang bersaudara (bawang merah dan bawang putih) secukupnya.

“Pasangan piduduk ialah sajian ketan yang diletakkan satu butir telur di tengah permukaannya,” katanya.

Ditambahkannya, untuk ayunan bayi pun ternyata buyunan sembarang yang digunakan pada tradisi ini.

Ayunan merupakan kain kuning yang dilapisi kain lainnya, kemudian digantung. Ayunan dipasangi hiasan yang terbuat dari daun kelapa atau daun rumbia.

Menurut Mahmud, hiasan tersebut terdiri dari berbagai macam bentuk seperti keris, payung, bola, belalang, ular, atau anyaman lainnya.
Hiasan lainnya ialah bunga dan buah-buahan. Rangkaian bunga yang terdiri dari cempaka, kaca piring, kenanga, pandan, dan lain-lain ini dijalin dengan daun kelapa.

“Buah-buahan bisa berupa kelengkeng dan rambutan. Hiasan bunga dan buah-buahan disesuaikan dengan kemampuan tuan rumah,” katanya. (Banjarmasinpost.co.id/edi nugroho)

Penulis: Edi Nugroho
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved