Berita HSS

Warga Simpur Tak Lagi Memproduksi Minyak Kelapa Murni, Padahal Penghasil Kelapa, Ini Sebabnya

Warga desa-desa di Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dulunya terkenal dengan pembuat minyak kelapa tradisional.

Warga Simpur Tak Lagi Memproduksi Minyak Kelapa Murni, Padahal Penghasil Kelapa, Ini Sebabnya
banjarmasinpost.co.id/hanani
Aktivitas perajin dodol di Desa Kapuh, Kecamatan Simpur, HSS. Industri dodol merupakan pengguna kelapa cukup besar selain ketupat Kandangan, di Hulu Sungai Selatan, Rabu (8/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Warga desa-desa di Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dulunya terkenal dengan pembuat minyak kelapa tradisional.

Hal tersebut didukung dengan tersedianya pohon kelapa, dimana satu keluarga minimal memliki 50 batang pohon kelapa lokal, atau istilah perkebunan disebut kelapa dalam.

Namun, industri kecil minyak kelapa tersebut, kini sudah "gulung tikar". Sejak tahun 1990-an, produk minyak pabrikan masuk ke daerah-daerah di Kalsel, termasuk HSS hingga ke desa-desa dengan harga relatif terjangkau, membuat masyarakat beralih ke minyak buatan pabrik CPO tersebut.

Warga Simpur pun mulai meninggalkan kebiasaan membuat minyak goreng sendiri, dari buah kelapa.

"Padahal, dulu desa-desa yang ada dikecamatan ini terkenal dengan perajin minyak goreng dari kelapa,"kata Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan, Kecamatan Simpur, Nur Aidi kepadabanjarmasinpost.co.id, Senin 6 Mei 2019 lalu.

Baca: Satlantas Polres Kotabaru Amankan 7 Unit Kendaraan Balapan Liar di Hari Ketiga Ramadhan 2019

Baca: Sanah Penderita Kanker Payudara Aluh-aluh, Mulai Jalani Kemoterapi di RSUD Ulin, Segini Lamanya

Baca: Kebakaran di Camara Raya Banjarmasin Utara, Syok Seorang Karyawan Alfamart Pingsan

Dijelaskan, sampai sekarang, tak ada lagi warga pemilik kelapa yang memproduksi minyak kelapa murni, yang pengolahannya dilakukan secara tradisional tersebut untuk dijual. Padahal, kualitas minyak goreng dari kelapa punya kelebihan dibanding produk pabrikan. "Selain diproduksi secara alami, aromanya juga lebih harum khas kelapa.

"Mungkin masih ada yang membuatnya, tapi terbatas untuk konsumsi sendiri. Tak lagi dijual. Padahal kalau dijual, mungkin banyak peminatnya, karena sebagian masyarakat saat ini yang sadar kesehatan, ingin kembali ke produk tradisional alami,"katanya.

Sementara, Saprani, warga Simpur yang memiliki 50 pohon kelapa dalam mengakui, tradisi membuat sendiri minyak kelapa tak lagi dilakukan warga Simpur.

Selain alasan sulit bersaing dengan produk pabrikan, warga lebih memilih menjual kelapanya ke pedagang pengumpul, yang tiap hari keliling kampung-kampung di Simpur, membeli buah kelapa warga.

Selain lebih memilih menjual buah tua, banyak warga yang juga memilih menjual kelapa saat masih muda, karena harganya lebih mahal. "Kalau kelapa tua, paling mahal Rp 3000 per biji. Kelapa muda, Rp 4000 sampai Rp 6000 perbiji. Apalagi saat bulan puasa, bisa lebih mahal,"katanya.

Baca: Jadwal Imsak & Buka Puasa Hari Ke 4 Ramadhan 1440 H di Kota Banjarmasin Provinsi Kalsel Kamis (9/5)

Baca: Bacaan Niat Puasa Ramadhan Hari Ke 4 Kamis (9/5) dan Doa Sahur Ramadhan 2019 / 1440 H

Baca: Bukan Rosa Meldianti, Dewi Perssik Tertipu Sosok Ini Hingga Nama Suaminya, Angga Wijaya Dicatut

Membuat minyak kelapa sendiri, menurutnya memerlukan kesabaran, karena prosesnya cukup lama dan memerlukan kayu bakar, sehingga warga pilih menjual buah kelapanya saja.

Disebutkan, saat musim hujan, produksi kelapa menurun, dibanding musim kemarau. S

ementara, Kabupaten HSS tiap hari membutuhkan kelapa untuk memasok industri dodol dan ketupat Kandangan, sehingga tak sulit bagi masyarakat memasarkan hasil kebun kelapa tersebut.

Selain kecamatan Simpur, penghasil kelapa lainnya di HSS adalah Sungai Raya dan Kalumpang. Di desa-desa kecamatan tersebut, hampir semua rumah penduduknya ada kebun kelapa. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved