Berita Banjar

Sedimentasi Sungai di Pembantanan Semakin Parah, Begini Dampaknya

Pendangkalan atau sedimentasi sungai di Desa Pembantanan, Kecamatan Sungaitabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), kian parah.

Sedimentasi Sungai di Pembantanan Semakin Parah, Begini Dampaknya
Dari Apriani untuk BPost
DANGKAL - Dua orang bocah bermain di tepi Sungai Batang Banyu Mati. Sungai utama di Desa Pembantanan ini makin parah sedimentasinya sehingga kian sulit dilintasi warga menuju sawah ketika surut. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Pendangkalan atau sedimentasi sungai di Desa Pembantanan, Kecamatan Sungaitabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), kian parah.

Lalu lintas di sungai setempat pun kerap tersendat karena di beberapa area kondisi pendangkalan begitu sporadis. Apalagi saat ini debit air terus menyusut seiring panasnya cuaca belakangan ini.

"Kalau musim-musim panas gini, airnya sedikit, ya makin susah. Harus hati-hati dan pandai memilih jalur. Salah sedikit, kelotok bisa terjebak di lumpur dan kandas," ucap Amat, warga Pembantanan, Sabtu (11/05/2019).

Ia berharap pemerintah segera mengeruk sungai-sungai yang ada di kampungnya. Setidaknya di sungai utama yakni Sungai Batang Banyu Mati yang juga terus mengalami pendangkalan dan penyempitan.

Baca: Bukan Syahrini, Ada Sosok Wanita Lain di Samping Reino Barack di Belakang Panggung

Baca: Pasar Wadai Ramadan, Berbeda dari yang Lain, Stand ini Tawarkan Aneka Burung dan Jeroannya

Baca: Paman Birin Respons Cepat Kondisi Jembatan Sungai Lulut, Pemprov Kalsel Bantu Rp 20 Miliar

Kondisi tersebut cukup merepotkan warga setempat yang sebagian besar adalah petani pasi. Mereka kerap kesulitan menjangkau sawah ketika air surut.

Bahkan kadang mereka terpaksa harus menginap di sawah. Hal seperti itu sering sialami saat musim panen ketika sore hendak pulang air surut. Praktis, mereka tidak bisa pulang karena kelotok atau jukung kandas jika memaksa melintasi anak-anak sungai yang dangkal.

Kepala Desa Pembantanan Apriani ketika dikonfirmasi mengakui kondisi sungai-sungai di desanya kian dangkal. "Kami kemarin itu sudah ada mengusulkan pengerukan, totalnya 49 kilometer. Itu belum termasuk sungai yang kecil-kecil yang disebut rei," sebutnya.

Ia sangat mengharapkan pemerintah bisa sesegeranya melakukan pengerukan setidakmya di sungai utama yakni Sungai Batang Banyu Mati. "Itu kan sebenarnya juga Sungai Martapura. Cuma karena mati akibat dangkal berlumpur, lalu disebut Sungai Batang Banyu Mati," bebernya.

Teknis pengerukannya, sebut Apriani, mesti menggunakan alat keruk besar atau ponton. "Tidak bisa kalau pakai ekskavator karena lebar sungainya 20 meter," tandasnya.

Beberapa waktu lalu, lanjut Apriani, telah ada respons dari Pemerintah Provinsi Kalsel. Bahkan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjar. Dari telah turun ke lokasi melakukan pengukuran.

Baca: Meski Tak Melihat, Tunanetra Banjar Juga Aktif Tadarusan, Begini Caranya

Baca: Safari Ramadan Ke Bungkukan, Bupati Kotabaru Kembali Bagikan Bantuan Masjid dan Langgar

"Kalau tak keliru kemarin itu yang diukur 11 kilometer pada empat sungai. Mudah-mudahan bisa segera direalisasikan dan semoga nanti berlanjut karena masih banyak sungai di desa kami yang perlu dikeruk," ucap Apriani.

SURUT - Warga susah payah melintasi anak sungai yang mulai surut.
SURUT - Warga susah payah melintasi anak sungai yang mulai surut. (Dari Apriani untuk BPost)

Ia mengatakan dangkalnya sungai sangat teras dampaknya. Paling nyata adalah anjloknya harga jual panenan padi. Contohnya ketika di desa tetangga harga gabah satu blek Rp 50 ribu, di Pembantanan cuma Rp 40 ribu.

Dikatakannya, pembenahan infrastruktur termasuk tata pengairan di desanya sangat penting dan layak. Ini mengingat Pembantanan adalah salah satu lumbung beras di Kabupaten Banjar. Total luasan sawah tak kurang dari 800 hektare dengan produktivitas lumayan bagus yakni 11-12 blek per borong.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved