Sisi Gelap Prostitusi Aplikasi Wichat

Diprediksi 50 PSK di Banjarbaru Tak Andalkan Michat, Maret 2019 Terdeteksi 11 Pasien Baru HIV AIDS

Bicara praktik prostitusi di Banjarbaru tentu tak terhindarkan dari ragam cara pelaku penyedia jasa. Di antaranya praktik secara online.

Diprediksi 50 PSK di Banjarbaru Tak Andalkan Michat, Maret 2019 Terdeteksi 11 Pasien Baru HIV AIDS
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
Aplikasi pertemanan michat 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bicara praktik prostitusi di Banjarbaru tentu tak terhindarkan dari ragam cara pelaku penyedia jasa. Di antaranya praktik secara online, situasi ini tentu perlu jadi perhatian akan penyebaran HIV AiDS.

Hal ini membuat prihatin sekretaris komisi penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjarbaru Edi Sampana, SKM., M.Kes. Dari data yang dimilikinya, tercatat selama Maret 2019, di Banjarbaru mendeteksi 11 pasien baru HIV AIDS. "Bahkan April ini sudah mendeteksi 4 pasien baru," katanya.

Dia mengatakan pihaknya terus aktif mendeteksi. Pada 2018 tadi saja lebih dari 40 pasien. Kalau HIV, disebut pengidap, Karena ia tidak bisa disembuhkan. Supaya tetap sehat, ia harus menelan ARV seumur hidup.

Permasalahan lainnya, ada pengelola tempat hiburan di Banjarbaru yang tidak mau KPA kota Banjarbaru memberikan penyuluhan dan tes HIV pada karyawannya.

Baca: Sisi Gelap Prostitusi Aplikasi Michat dari Kacamata Hukum Pidana, Begini Penjelasannya

Baca: Tak Seua Akun Cewek di Michat bisa BO, Pemandu Lagu Freelance di Michat Juga Ada

Baca: Sisi Gelap Prostitusi Aplikasi Michat dari Kacamata Hukum Pidana, Begini Penjelasannya

Faktor lain, masih banyak yang tidak pakai kondom pada hubungan seksual berisiko. Penyebabnya, karena ketidaktahuan dan memang tidak mau memakai.

Sementara itu, para kader tidak lagi memotivasi penggunaan kondom, karena 'de jure' di tempat ini tidak ada lagi prostitusi. Ya, eks lokalisasi pembagian.

Sekretaris komisi penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjarbaru Edi Sampana, SKM., M.Kes
Sekretaris komisi penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjarbaru Edi Sampana, SKM., M.Kes (banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan)

" Karena 'de jure' tidak ada lagi, makin sulit mengumpulkan para wts itu untuk diberikan penyuluhan. Tes HIV dan tes IMS juga tidak dilakukan lagi. Juga cukup banyak (hampir 10 orang) pengidap HIV yang tidak mau berobat ARV. Penyebabnya, tidak 'percaya' bahwa ia kena HIV, ia malu berobat ke RS, ia tidak punya jaminan kesehatan (BPJS)," bebernya.

Diprediksi, untuk praktik prostusi yang tidak online di Banjarbaru , menurut informasi para kader ada sekitar 50 orang tersebar di eks lokalisasi pembatuan, batu besi. " Yang tertangkap paling 2-3 orang. Jadi terlalu sedikit untuk didatangi," katanya.

Baca: Dosen Kalsel Ungkap Aplikasi Michat Marak Praktik Prostitusi, Ada Aplikasi Chat Khusus

Baca: Cewek ini Ditarif Rp 300 Ribu Satu Kali Kencan di Michat Banjarbaru

Baca: Via Aplikasi MiChat, Ayu Jajakan Empat Wanita Lulusan SMA, Tarifnya  sampai 1,3 juta.

Aplikasi dan perempuan michat
Aplikasi dan perempuan michat (banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan)

Padahal, berobat ARV bisa di RS Banjarbaru dan ARV ini gratis. Untuk itu bila menemukan pasien HIV, selalu kami anjurkan si pasien untuk masuk BPJS. Kalau tidak mampu, dan warga banjarbaru, kami upayakan mendapat kartu Indonesia sehat dari Dinas Sosial kota Banjarbaru. (banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved