Ramadhan 2019

Mutiara Ramadhan : Rasa Malu

Malu adalah budaya bangsa Indonesia. Demikian pula agama Islam menanamkan sifat malu. Budaya malu merupakan kontrol diri untuk bersikap baik dan adil.

Mutiara Ramadhan : Rasa Malu
capture/banjarmasin post
KH Cholil Nafis LC (Oase Ramadhan) 

Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saatitu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.

Islam menjadikan rasa malu sebagai satu ciri khas misi ajarannya. Rasulullah saw menegaskan:

“Setiap agama itu memiliki ciri khas akhlaknya, dan akhlak yang menjadi ciri khas agama Islam adalah rasa malu.” (HR Imam Malik). 

Memelihara Hati

Umat Nabi saw selalu menjadikan sifat malu sebagai akhlak mulianya. Malu kepada Allah SWT untuk berbuat maksiat dan meninggalkan perintah-Nya karena apapun yang dilakukan oleh manusia diketahui oleh Allah SWT.

Malu kepada malaikat yang menemani dan mencatat amal perbuatannya. Malu kepada masyarakat untuk berbuat hal tercela. Sebab tak mungkin ada kebaikan manakala sudah hilang rasa malunya.

Dari sahabat Abdillah ibnu Mas’ud, Rasulullah saw bersabda, “Malulah kalian kepada Allah dengan rasa malu yang sebenarnya!” lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasul sungguh kami masih punya rasa malu, Alhamdulillah.”

Nabi saw bersabda, “Bukan itu yang aku maksudkan. Rasa malu kepada Allah yang benar adalah dengan cara engkau pelihara kepalamu dan semua di sekitarnya, engkau pelihara perutmu dan sekitarnya, ingatlah mati dan keadaanmu yang akan menjadi tulang belulang, lalu tinggalkan hiasan dunia untuk menjamin kesenangan akhirat! Jika telah melakukan itu semua, baru orang tersebut telah merasa malu yang benar terhadap Allah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan al-Hakim)

Malu yang dimaksud dalam Hadits IbnuMas’ud adalah menjaga pikiran, pandangan, pendengaran, dan ucapan dari sesuatu yang melanggar perintah Allah SWT. Begitu juga kita diperintah untuk menjaga perut dari mengonsumsi yang haram dan menjaga kemaluan dari perbuatan zina. Ingat pada kematian dan punahnya kehidupan.

Selain itu memelihara hati dari gemerlap dan kemewahan duniawi. Itulah malu yang dimaksud sebagai ciri khas akhlak umat Nabi Muhammad saw. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved