Menengok Teknologi Tepat Guna Kalsel

Pejaga Sekolah Batola Ini Ciptakan Mesin Tanam Padi Murah dan Efisien, 1 Hektare Cuma 10 Jam

Nah Hatni (40), Warga Rantau bedauh Kabupaten Batola ini membuat alat dari bahan bekas yang bisa memudahkan petani menanam padi.

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Elpianur Achmad
banjarmasinpost.co.id/nurholis huda
Hatni (40), Warga Rantau bedauh Kabupaten Batola membuat alat dari bahan bekas yang bisa memudahkan petani menanam padi._wm 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Kebanyakan warga di Banua masih menggunakan sistem manual dalam menanam padi, perlu keroyokan agar bisa dua sampai tiga hari di atas luasan satu hektar.

Nah Hatni (40), Warga Rantau Bedauh Kabupaten Batola ini membuat alat dari bahan bekas yang bisa memudahkan petani menanam padi.

Menggunakan alat yang dia rakit, petani bisa menam padi di areal satu hektare hanya dalam 10 jam.

Nama alat yang dia rakit adalah mesin tajak atau mesin penanam padi. 
Jika dilihat metodenya sama mesin transplanter tipe berjalan (walking type).

Pada tipe ini operator ikut berjalan secara perlahan tepat di belakang mesin penanam sembari mengarahkan kerapihan dalam penanaman di suatu area persawahan.

Baca: Din Syamsuddin Minta Kubu Prabowo Buktikan Kecurangan Pemilu : Kalau Benar Itu Musibah

Persedian benih padi dapat diletakkan pada rak yang telah tersedia pada alat tanam tersebut sehingga bila kekurangan pada tray penanam dapat langsung diisikan.

Penanaman dapat dilakukan dengan satu orang namun dalam pelaksanaannya dapat dibantu oleh satu orang lagi agar mempercepat proses pengisian benih.

Bedanya jika alat mesin transplanter petani harus beli mahal seharga Rp 60 juta, namun untuk mesin tajak buatannya murah, dia klaim tak sampai satu juta.

"Ide awalnya ya dari saya sendiri yang mana saya  rasakan ketika kesulitan menanam padi di rumah sulit. Akhirnya saya punya ide beli mesin dan beli besi bekas saya rakit eh jadi juga," kata dia.

Alat ini pun dia ikutan dalam lomba teknologi tepat guna (TTG) se Kalsel dan akhirnya menjadi juara satu.

" Alhamdulillah, jadi juara satu. Saya gak menyangka tadinya, " kata Penjaga Sekolah di Sdn Gandajaya 1, Kecamatan Rantau bedah Batola

Baca: 16 Contoh Ucapan Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2019 (Harkitnas), Cocok Instagram, Facebook

Karena menjadi juara satu, dirinya selain dapat uang pembinaan juga berhak mengikuti kontes se Indonesia.

"Untuk nasional lombanya September di Bengkulu, penilaiannya Juni Juli ini," kata dia.

Dia mengakui, beli alat alat nya adalah bekas saja. "Contohnya gear box belinya di pasar lima. seperti besi siku mencari di Belitung. Yang baru itu hanya mesin saja. Sistemnya menggunakan sistem diesel pakai bensin, biar enteng tarikannya," kata dia.

Hatni (40), Warga Rantau bedauh Kabupaten Batola ini membuat alat dari bahan bekas yang bisa memudahkan petani menanam padi.
Hatni (40), Warga Rantau bedauh Kabupaten Batola ini membuat alat dari bahan bekas yang bisa memudahkan petani menanam padi. (banjarmasinpost.co.id/nurholis huda)

Karena temuan mesin itu, sekarang dia memasukkan dalam proses paten.

"Membuat alat ini tak sampai sehari. Mengerjakannya sendiri, kebetulan di rumah ada workshop atau bengkel di rumah jadi mudah," kata bapak anak tiga itu. (banjarmasinpost.co.id /lis). 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved