Opini Publik

Konservasi Keanekaragaman Hayati ala Milenial

Kata keanekaragaman hayati merupakan terjemahan dari biological diversity yang disingkat dan lebih dikenal dengan sebutan biodiversity.

Konservasi Keanekaragaman Hayati ala Milenial
BANJARMASINPOST.co.id/nurholis huda
Gubernur Kalsel H Sahbirin menanam pohon di taman Miniatur Tropical Rain Forest 

Konservasi Gaya Milenial
Kita menyadari bahwa suatu ekosistem merupakan penyedia jasa lingkungan bagi semua makhluk hidup yang ada di dalamnya, termasuk manusia. Ekosistem menyediakan semua kebutuhan seperti air, udara, siklus biogeo kimia, makanan, dan segala kegiatan untuk menunjang kehidupan. Hal ini hanya bisa terjadi jika ditopang keberadaan keanekaragaman hayati yang mendukung ekosistem tersebut. Melakukan konservasi terhadap seluruh bagian ekosistem menjadi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan keseimbangan seluruh makhluk hidup yang ada di dunia ini.

Menurut Groom, kegiatan konservasi keanekaragaman hayati merupakan tugas bagi banyak pihak dan melibatkan banyak sektor. Solusi terhadap krisis keanekaragaman hayati dapat dilakukan dengan: 1) Menggabungkan kajian ilmiah dan mengkomunikasikan penyebab krisis keanekaragaman hayati dan kesejahteraan manusia; 2) Mengembangkan teknologi; 3) Menguatkan instrument hukum dan institusi; 4) Menyusun insentif dan perencanaan ekonomi; dan 5) Melakukan intervensi sosial.

Berhubung manusia menjadi pusat dari segala sumber persoalan krisis lingkungan hidup dan ancaman terhadap kelestarian keanekaragaman hayati, maka intervensi sosial di era milineal ini menjadi penting adanya. Artinya, penyelesaian masalah bukan hanya dari persoalan teknis-biologis semata, namun juga tidak terlepas dari persoalan sosial-budaya. Jatna Supriatna mengusulkan adanya masyarakat konservasi, yaitu masyarakat yang dalam interaksinya dengan sumberdaya alam dan lingkungan hidupnya senantiasa memegang teguh dan berprilaku sesuai dengan prinsip etika, kaidah dan norma yang berlaku pada sistem alam (sunnatullah), sebab sumberdaya alam terbatas daya dukungnya, mempunyai hak hidup dan harus diperlakukan sama seperti manusia sebagai ciptaan Tuhan.

Dikaitkan dengan teori etika lingkungan, maka salah satu teori yang saat ini telah berkembang adalah ekosentrisme. Teori etika ini merupakan kelanjutan dari biosentrisme. Kedua teori ini telah mendobrak teori terdahulu antroposentrisme yang hanya menekankan kepada keberadaan manusia semata, manusialah yang berhak mengatur semuanya. Etika ekosentrisme tidak hanya memusatkan pada makhluk yang hidup saja sebagaimana biosentrisme, namun juga yang tidak hidup (abiotik).

Secara ekologis, makhluk hidup dan benda-benda abiotik lainnya saling terkait satu sama lain. Salah satu aliran teori etika ekosentrisme yang popular saat ini adalah Deep Ecology (DE). Etika baru ini (baca: DE), menuntut pemahaman yang baru tentang relasi etis yang ada dalam alam semesta ini disertai adanya gerakan atau aksi nyata di lapangan. Suatu gerakan yang menuntut dan didasarkan pada perubahan paradigma secara mendasar dan revolusioner, yaitu perubahan cara pandang, nilai dan perilaku atau gaya hidup.

Generasi milenial yang merupakan generasi penerus kehidupan di dunia ini diharapkan mempunyai pengetahuan, pemahaman dan prilaku terhadap keanekaragaman hayati sebagai berikut: 1) Kita hidup sebagai bagian dari komunitas makhluk Tuhan lainnya, saling berhubungan dan saling bersandar satu sama lain; 2) Mampu bertanggung-jawab dan bertangung-gugat atas dampak tindakan terhadap alam; 3) Berusaha keras untuk membuatkan kehidupan dunia baru yang beragam dan produktif untuk generasi yang akan datang; dan 4) Menjalankan fungsi sebagai wakil Tuhan (khalifah) yang bertugas melindungi, mengawetkan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan untuk kemakmuran semua makhluk Tuhan.

Mengutip pendapat Wiranto, kita harus percaya dengan adanya spirit konservasi, yang berhubungan dengan hal-hal transedental yang setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Setiap tindakan yang berbuat salah terhadap alam akan menyebabkan reaksi yang lebih hebat dari alam. Begitu sebaliknya, tindakan yang merawat alam akan diganjar oleh alam itu sendiri berupa manfaat yang lebih besar.

Dikaitkan dengan tema Hari Keanekaragaman Hayati tahun ini yaitu Our Biodiversity, Our Food, and Our Health, maka kita yang hidup saat ini, dan khususnya generasi milenial sebagai penerus kehidupan kedepan, harus mampu mengkonservasi keanekaragaman hayati yang ada saat ini, sehingga dapat menopang kecukupan pangan dan mendukung kesehatan bagi semua makhluk hidup. Selamat memperingati Hari Keanekaragaman Hayati tahun 2019, semoga generasi milenial dapat menikmati kehidupan dalam keharmonisan hubungan manusia dengan alamnya. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved