Tajuk

Politik Transaksi Pasti Berlalu

Terbukti sejumlah calon anggota legislatif (Caleg) hilir mudik di Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sambil membawa sejumlah bukti pendukung.

Politik Transaksi Pasti Berlalu
Capture/Banjarmasin Post News Video
Simulasi pencoblosan yang digelar KPU Kota Banjarmasin, Selasa (9/4/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - COBLOSAN sudah selesai sebulan yang lalu. Hiruk pikuk dan gegap gempita pemilu legislatif (Pileg) dan pemilu presiden dan wakil presiden (pilpres) pun sudah berangsur reda, meskipun pro dan kontra serta berbagai fenomena terkait proses perhitungan masih setiap hari mewarnai pemandangan dan bacaan warga.

Apalagi peserta pesta demokrasi khususnya peserta pileg yang merasa belum beruntung, juga tak mengenal lelah untuk terus berjuang mencari keadilan menurut versinya. Terbukti sejumlah calon anggota legislatif (Caleg) hilir mudik di Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sambil membawa sejumlah bukti pendukung dugaan terjadinya kecurangan baik dalam bentuk money politic, penggelembungan maupun sejumlah dugaan pelanggaran dalam bentuk transaksi lainnya.

Bahkan secara khusus harian pagi BPost edisi Senin (20/5) menurunkan headline berjudul Caleg Belanja Suara di Kecamatan. Berita memotret ‘perjuangan’ para peserta hajatan demokrasi lima tahunan khususnya calon wakil rakyat dalam bersaing dengan partai politik lainnya, maupun bersaing dengan sesama caleg di partai yang sama.

Dari reportase tersebut memperlihatkan perjuangan berat yang dilakukan caleg agar bisa meraih suara terbanyak dalam pesta demokrasi yang digelar 17 April lalu. Tak hanya tenaga dan waktu yang mereka curahkan, tapi juga tak sedikit mengeluarkan uang untuk memperoleh suara terbanyak dengan beragam cara. Termasuk politik transaksional.

Bahkan budayawan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya berjudul Demokrasi La Roiba Fih memberikan kritik terkait perpolitikan dan demokrasi di Indonesia yang sangat luar biasa. Menurutnya, peserta pesta demokrasi di Indonesia rela mengeluarkan uang sangat banyak. Meskipun juga banyak yang tidak berhasil.

Hal itu selaras dengan hasil pemilu kemarin baik di tingkat kabupaten, kota maupun provinsi. Modal terkenal saja tak cukup membawa keberhasilan. Bahkan caleg incumbent pun juga tak sedikit yang dipastikan gagal merengkuh empuknya kursi wakil rakyat.

Dari hasil pemilu tersebut setidaknya memberikan gambaran dan pelajaran bagi semua orang kalau saat ini warga atau pemilih sudah cerdas. Politik transaksional tidak seampuh beberapa periode sebelumnya. Pada saatnya nanti, politik transkasi akan ditinggalkan dan tidak laku.

Oleh karena itu, pendidikan dan penyadaran politik mesti terus dilakukan oleh semua pihak. Partai politik sebagai kendaraan pesta demokrasi, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat harus memberikan dukungan dan pendidikan politik yang lebih bagus lagi, agar pesta demokrasi tidak dinodai, tidak dikotori dengan praktik-praktik kotor dan curang.

Bahkan yang tak kalah pentingnya peran partai politik itu sendiri. Dalam melakukan proses rekrutmen calon wakil rakyat juga harus bebas dari intrik-intrik transaksi. Dengan begitu, mereka dalam berjuang untuk mendapatkan dukungan rakyat hanya melalui konsep dan program-program yang ditawarkan kepada masyarakat.

Apalagi ditambah dengan keterbukaan informasi dan canggihnya teknologi, membuat siapa saja bisa ikut melakukan pengawasan dan melakukan politik secara murah dan meriah. Dengan begitu, dipastikan pesta demokrasi menghasilkan wakil-wakil yang benar-benar bisa bekerja dan membawa kemajuan dan perbaikan di masyarakat. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved