Mereka Bicara

Puasa Pilar Kemajuan

SATU di antara kata kunci memahami puasa adalah “imsak” atau menahan diri. Untuk apa menahan diri, apanya yang ditahan, dan adakah hubungan

Puasa Pilar Kemajuan
Shutterstock/play.google.com
Jadwal imsak terlengkap besok Jumat 10 Mei 2019 

Prof Dr Komaruddin Hidayat, Guru Besar UIN Syarif Hidayatulah

BANJARMASINPOST.CO.ID - SATU di antara kata kunci memahami puasa adalah “imsak” atau menahan diri. Untuk apa menahan diri, apanya yang ditahan, dan adakah hubungan antara sikap menahan diri dan etos kemajuan sebuah bangsa?

Jika yang dimaksudkan dengan kemajuan ialah proses pembangunan rasional berencana untuk menyejahterakan rakyat dan mengajak mereka untuk melihat jauh ke depan, logika dan etos puasa dan kemajuan memiliki titik singgung dan garis impit.

Sebagaimana puasa, sebuah kemajuan atau modernisasi akan mengalami kegagalan jika para pelakunya tidak mampu menahan diri ketika dihadapkan pada godaan yang menawarkan kenikmatan sesaat sehingga mengorbankan kenikmatan yang lebih besar pada hari esok.

Lebih dari itu, sebagaimana juga dalam ibadah puasa, modernisasi bangsa ini akan dinilai kurang berhasil kalau dalam praktiknya tidak mampu mewujudkan kepedulian sosial secara nyata, sebagaimana diisyaratkan oleh perintah berzakat fitrah dalam rangka memperbaiki nasib para fakir miskin.

Dalam melakukan pembangunan, jangan hendaknya slogan dan seremoni formal mengaburkan fungsi, proses, dan sasaran pembangunan yang lebih sejati. Sebagaimana juga jangan ibadah Ramadan ini berhenti pada ritual formal, tetapi hikmah yang hendak diraih malah terlewatkan.

Puasa sesungguhnya tidak hanya dikenal dalam ajaran Islam, tetapi juga pada agama-agama besar lainnya. Sebagai ritual keagamaan, puasa tidak dilihat sebagai tujuan, tetapi merupakan manifestasi pengabdian kepada Tuhan, yang mengandung aspek latihan spiritual yang memiliki sasaran di luar dirinya.

Karena ibadah bukanlah tujuan akhir. Dalam Islam berbagai perintah dan aturan agama itu dikenal sebagai istilah syariat. Istilah lain yang mirip dengan syariat ialah tariqah, sabil, dan shirat.

Kesemuanya itu bermakna jalan. Secara sederhana saja kita bisa memahami bahwa fungsi jalan adalah untuk dilalui dalam rangka menuju suatu titik tujuan.

Tiga Pesan

Demikianlah, sebagai syariat agama, puasa memiliki sasaran di luar dirinya. Dalam ibadah puasa, setidaknya terdapat tiga pesan yang melekat.

Pertama, kita diajak untuk menghayati kemahahadiran Tuhan. Betapa kita merasakan kedekatan Tuhan sehingga di manapun dan kapanpun berada, kita sanggup menahan diri untuk tidak makan dan minum.

Kedua, kesanggupan menunda kenikmatan jasmani yang bersifat sesaat, sesungguhnya kita tengah melakukan investasi kenikmatan yang lebih agung dan sejati pada hari depan.

Ketiga, puasa juga mengajarkan kepada kita untuk menumbuhkan dan mempertajam kepekaan sosial, yaitu berbagi rasa dan berempati dengan derita orang lain. Perintah mengeluarkan zakat fitrah di pengujung bulan Ramadan secara fungsional dan simbolik mencerminkan adanya sasaran sosial miskin, si kuat dan si lemah. (BANJARMASINPOST.CO.ID/*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved