Ramadhan 1440 H

16 Jam Berpuasa di Negeri Paman Sam, ‎Begini Cerita Alumni Florida Institude of Technology Asal HST

Menjalani puasa Ramadhan di negeri orang, apalagi negeri yang umat Islamnya minoritas, menjadi‎ tantangan sendiri.

16 Jam Berpuasa di Negeri Paman Sam, ‎Begini Cerita Alumni Florida Institude of Technology Asal HST
istimewa
Muhammad Nasar, Alumni Florida Institude of Technology, Dosen di Universitas Muhammadiyah Malang, Asal Hulu Sungai Tengah) ? 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Menjalani puasa Ramadhan di negeri orang, apalagi negeri yang umat Islamnya minoritas, menjadi‎ tantangan sendiri. Apalagi, waktu berpuasanya lebih panjang, sampai 16 jam.

Situasi demikian pernah dialami Muhammad Nasar, alumni Florida Institude of Technology, Amerika Serikat yang saat ini menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Malang. Orang Banua, asal Hulu Sungai Tengah ini pernah dua tahun berpuasa di negeri Paman Sam, yaitu 2016-2017 saat menjalani masa studi.

"Dua kali menjalani puasa di Florida, saya menghadapi musim panas (Summer), dimana matahari berada di sebelah utara bumi dan saat itu garis edarnya dekat dengan Florida. Konsekuensinya, waktu siang terpanjang dan malam terpendek,"katanya

Waktu maghrib (matahari tenggelam) sekitar pukul 20.00 dan waktu subuh sekitar pukul 4.30 sehingga puasanya sekitar 16 jam. Sedangkan waktu tidur malam jika mengikuti taraweh,pukul 24.00 sampai pukul 3.00. "Otomatis habis subuh biasanya dilanjut tidur lagi sampai pukul 08.00,"tuturnya.

Baca: Nasib Bayi Mungil Ini Tak Dapat Pelukan Ustadz Arifin Ilham yang Baru Saja Meninggal Dunia

Baca: Enam Kali Berturut-turut Raih Opini WTP dari BPK RI, Begini Pesan Bupati Balangan H Ansharuddin

Baca: Pembangunan Desa Wisata Belangian Digenjot, Dishut Kalsel Siapkan Fasilitas Ini

Jika dihitung secara matematis (akal biasa), menurutnya nampaknya berat puasa selama 16 jam, ditambah cuaca yang sangat panas disiang hari. Kenyataannya ketika menjalaninya tidak demikian. Karena saat itu aktif kuliah, strategi yang dia lakukan salah satunya mengambil independent study yang kegiatannya lebih banyak belajar mandiri ke perpustakaan. Yaitu dari pukul 10.00 hingga ashar.

Kegiatannya adalah eksplorasi/membaca journal, membuat program, dan membuat laporan. Hanya sesekali bertemu dengan Professor untuk melakukan progress report. Menjelang maghrib, ketika matahari mulai meredup, saatnya keluar perpustakaan menuju masjid naik sepeda pancal. Jaraknya sekitar 1.6 mil (2km), untuk berbuka puasa gratis.

Ketika bertemu kawan sesama muslim yang punya mobil kadang beberapa yang naik sepeda akan memarkir sepedanya di kampus dan jadilah naik mobil rame-rame ke masjid.

"Setelah berbuka sambil menunggu isya biasanya saya tidak langsung pulang. Tapi membantu membersihkan masjid dengan vacuum, sebagai tanda terimakasih dan partisipasi ke takmir dan komunitas,"katanya.

Kegiatan malam pun lanjut di masjid hingga tarawih yang berdampak banyaknya kenalan baru dari berbagai daerah dan negara. Sering kali dijumpai dermawan yang bagi-bagi rejeki baik susu, kurma, beras, ayam/daging halal. Bahkan kadang diundang ke rumanya untuk berbuka.

" Alhamdulillah dengan pola kegiatan begini teman jadi makin banyak dan akrab, waktu jadi produktif, dan puasa 16 jam tidak terasa berat. Keakraban ini terus berlanjut. Di luar ramadhan pun dan sampai sekarang masih aktif di grup WA. Hikmah lain ketika bulan puasa, sering kali saya hanya cukup masak nasi untuk sahur, sedang lauknya dikasih dari Masjid pas berbuka tadi, yang menu dan porsinya adalah porsi timur tengah (besar),"ungkapnya

Halaman
12
Penulis: Hanani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved